Benarkah Cuaca Panas Mematikan Virus Corona? Berikut Penelitian BMKG-UGM

kajian kolaborasi BMKG dan UGM itu telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa kementerian terkait

Tayang:
Warta Kota/Andika Panduwinata
Pemkot Tangerang menggelar sayembara Tangerang Berjemur guna memutus rantai virus Covid-19. Tampak, Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah bersama jajarannya saat berjemur di halaman kantornya, Selasa (31/3/2020). 

TRIBUNBANTEN.COM - Benarkah cuaca panas bisa mematikan virus corona?

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meneliti tentang pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran Covid-19.

Tim BMKG diperkuat 11 doktor di Bidang Meteorilogi, Klimatologi, dan Matematika.

Tim itu didukung guru besar dan doktor di Bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan mereka telah mengkaji berdasarkan analisis statistik pemodelan matematis dan studi literatur.

Hasil kajian kolaborasi BMKG dan UGM itu telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa kementerian terkait pada 26 Maret 2020.

Hasil kajian itu menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah Covid-19.

"Hasil itu sebagaimana yang disampaikan dalam penelitian Araujo dan Naimi (2020), Chen et. al. (2020), Luo et. al. (2020), Poirier et. al (2020), Sajadi et.al (2020), Tyrrell et. al (2020), dan Wang et. al. (2020)," tulis Dwikorita melalui komunikasi online.

Hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) juga menunjukkan sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.

Penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8 - 10 °C dan kelembapan 60-90 persen.

Artinya, dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi llingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus Covid-19.

Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi Covid-19.

Selanjutnya penelitian oleh Bannister-Tyrrell et. al. (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1 °C) dengan jumlah dugaan kasus Covid-19 per hari.

Mereka menunjukkan Covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1 – 9 °C).

"Artinya semakin tinggi temperatur, kemungkinan adanya kasus Covid-19 harian akan semakin rendah," ucap Dwikorita.

Wang et. al. (2020) menjelaskan pula bahwa serupa dengan virus influenza, virus corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering.

"Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan host immunity seseorang, dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus sebagaimana yang dituliskan dalam studi Wang et al. (2020) tersebut," kata Dwikorita.

Demikian pula Araujo dan Naimi (2020) memprediksi dengan model matematis yang memasukkan kondisi demografi manusia dan mobilitasnya.

Mereka menyimpulkan bahwa iklim tropis dapat membantu menghambat penyebaran virus tersebut.

Mereka juga menjelaskan lebih lanjut bahwa terhambatnya penyebaran virus dikarenakan kondisi iklim tropis dapat membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil.

Penularan virus corona dari orang ke orang melalui lingkungan iklim tropis cenderung terhambat.

Selain itu, kapasitas peningkatan kasus terinfeksi untuk menjadi pandemik juga akan terhambat.

Menurut Dwikorita, kajian Tim Gabungan BMKG-UGM ini menjelaskan analisis statistik dan hasil pemodelan matematis di beberapa penelilitian di atas mengindikasikan bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang linggi.

Namun, ini bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah outbreak gelombang yang ke dua.

Dipengaruhi Mobilitas dan Interaksi Sosial

Meningkatnya kasus pada gelombang ke dua saat ini di Indonesia tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial.

Kondisi cuaca/iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah Covid-19.

Namun, fakta menunjukkan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia sejak awal Maret 2020.

Indonesia yang terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27- 30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70 - 95 persen, dari kajian literatur sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak Covid-19.

Tapi fakta menunjukkan bahwa kasus Gelombang ke-2 Covid-19 telah menyebar di Indonesia sejak awal Maret 2020 yang lalu.

Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada faktor cuaca dalam penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia.

Laporan Tim BMKG-UGM merekomendasikan berdasarkan fakta dan kajian terhadap beberapa penelitian sebelumnya, bahwa apabila mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat (Luo et. al. 2020 dan Poirier et. al., 2020).

Maka faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam memitigasi atau mengurangi risiko penyebaran wabah tersebut.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Benarkah Cuaca Panas Bisa Mematikan Virus Corona? Ini Hasil Kajian BMKG dan UGM, 

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved