Breaking News:

Ratusan Penumpang Menumpuk di Pelabuhan Bakauheni

Para penumpang tertahan di Pelabuhan Bakauheni keberatan harus membayar biaya tes cepat itu

(FOTO: istimewa)(KOMPAS.com/TRI PURNA JAYA)
Ratusan penumpang menumpuk di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Jumat (16/5/2020) malam. Para penumpang ini tidak bisa naik ke kapal lantaran tidak memiliki dokumen hasil rapid test. 

TRIBUNBANTEN.COM - Arka Maulana, satu di antara penumpang yang tertahan di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, tidak sanggup harus membayar rapid test sebesar Rp 300 ribu.

Apalagi dia mengaku baru saja putus kontrak dari proyek nasional di Pekanbaru sehingga tidak ada uang tambahan lagi.

"Bayar Rp 300 ribu mahal, mas. Saya tidak ada uang lagi," kata Arka saat dihubungi, Sabtu (16/5/2020).

Akibatnya, Arka yang hendak pulang ke Jawa Tengah ini tertahan di Pelabuhan Bakauheni sejak Kamis lalu.

Para penumpang tertahan di Pelabuhan Bakauheni keberatan harus membayar biaya tes cepat itu.

Rapid test adalah salah satu syarat kelengkapan dokumen yang harus dimiliki penumpang agar bisa menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten.

Ibnu Jamil, pekerja proyek di Lampung Tengah yang selesai kontrak dan hendak pulang ke Jawa Tengah, juga mengatakan hal yang sama dengan Arka.

Ibnu mengaku dia dan 42 rekan kerjanya sudah mengantongi surat kesehatan dari puskesmas setempat sebelum berangkat ke Pelabuhan Bakauheni.

Namun, begitu sampai di Pelabuhan Bakauheni, ternyata pihak pelabuhan meminta dokumen hasil rapid test.

"Diminta rapid test, bayar Rp 300 ribu. Kami di sini sudah dua hari. Uang kami pas cuma buat ongkos dan makan di jalan, Mas," kata Ibnu.

Halaman
12
Editor: Agung Yulianto Wibowo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved