Breaking News:

Perayaan HUT Republik Indonesia ke-75, Monumen Lengkong Sejarah Perjuangan Rakyat Tangerang Selatan

Rumah dan Monumen Lengkong menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat di wilayah Tangerang Selatan untuk merebut kemerdekaan.

TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Rumah dan Monumen Lengkong menjadi saksi bisu perjuangan para Tentara Republik Indonesia (TRI) mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di wilayah Tangsel. 

TRIBUNBANTEN, TANGSEL - Negara Kesatuan Republik Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 pada 17 Agustus 2020.

Upaya memperoleh kemerdekaan itu menimbulkan jejak-jejak perjuangan di sejumlah daerah.

Salah satunya di Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten.

Rumah dan Monumen Lengkong menjadi saksi bisu perjuangan para Tentara Republik Indonesia (TRI) mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di wilayah Tangsel.

Wakil Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menceritakan mengenai sejarah Peristiwa Lengkong.

Benyamin Davnie menjelaskan, saat itu Indonesia belum genap satu tahun merdeka.

Pada 25 Januari 1946, tentara Jepang masih berdiam di Tangsel yang saat itu masih dikenal dengan nama Tangerang.

Mayor Daan Mogot yang memimpin Akademi Militer Tangerang, berunding dengan tentara Jepang untuk pelucutan senjata secara damai.

Membawa 34 taruna akademi, Daan Mogot berusaha menyukseskan perundingan tanpa pertumpahan darah.

"Untuk melucuti senjata Jepang di sini, maka berkumpullah tentara Jepang, kemudan Mayor Daan Mogot dengan 34 tarunanya itu datang ke sini kemudian berunding dengan Jepang," ujar Benyamin Davnie di Monumen Lengkong, Jumat (14/8/2020).

Saat sedang berunding di Rumah Lengkong, tiba-tiba letusan tembakan pecah.

Tentara Jepang yang berada di markasnya langsung siap senjata dan TRI tidak dalam posisi menguntungkan.

Panik, pasukan Nipon langsung menyerang puluhan tentara republik yang masih muda belia itu.

"Ketika hampir perundingan berhasil tiba-tiba ada letusan senjata yang entah itu dilakukan oleh siapa, karena dicurigai tentara republik menyerang, maka kemudian semua yang mengikuti prosesi penyerahan senjata ini ya dibunuh sama Jepang, termasuk Mayor Daan Mogot yang di dalam melakukan perundingan," ujar Benyamin Davnie.

Betapapun peristiwa berdarah itu menggugurkan para pejuang calon jenderal TRI, Benyamin Davnie melihatnya sebagai aksi heroik.

Upaya kedaulatan dan lepas dari penjajah itu merupakan bagian dari kemerdekaan yang bisa dinikmati sekarang ini.

"Para taruna ini adalah anak muda, umur 19 20 21 tahun. Anak muda yang dididik untuk menjadi tentara Indonesia," tutur Benyamin Davnie

Selain Mayor Daan Mogot, Benyamin Davnie menyoroti Letnan I Soebijanto Djojohadikusumo, paman dari Menteri Pertahanan yang saat ini menjabat Prabowo Subianto, yang juga gugur pada peristiwa itu.

Saat ini, Rumah Lengkong tengah dipugar, beberapa bagian yang kropos dibenahi agar tetap kuat berdiri.

Bangunan yang tercatat pada aset Tangsel itu dipastikan tidak akan berubah secara bentuk.

Arsitektur bangunan yang khas dengan empat tiang kokoh di pelataran, tetap dipertahankan.

"Ya bangunan aslinya tidak dirubah, yang kami rubah hanya bangunan bagian-bagian yang sudah rusak parah, seperti plafon, kusen, dan kuda-kuda," kata Benyamin Davnie.

Bahkan, lantai rumah yang terdapat bercak darah Mayor Daan Mogot, tetap dipertahankan.

Pada proses pemugaran, lantai dilapisi plastik agar kondisi lantai tetap baik.

"Yang tidak dirubah adalah bangunan asli, seperti jendela, struktur bangunan semua sama terutama lantai di mana lantai, Pak Daan Mogot itu dulu tumpah di situ. Itu tidak kami ubah tidak kami ganggu, tidak kami bersihkan bahkan tidak kami, sekarang kita tutup dengan plastik, kami ingin mempertahankan itu," tambah Benyamin Davnie.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Sejarah Peristiwa Berdarah Lengkong, Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI di Tangsel,

Editor: Glery Lazuardi
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved