Breaking News:

Virus Corona di Banten

Wow! Angka Perceraian di Tangerang Selatan Naik 10 Persen di Masa Pandemi Covid-19

Angka perceraian di Kota Tangerang Selatan mengalami peningkatan selama masa pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19).

TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohi
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tangsel, Abdul Rojak, di kantornya, Selasa (2/6/2020). 

TRIBUNBANTEN, TANGSEL - Angka perceraian di Kota Tangerang Selatan mengalami peningkatan selama masa pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa pasangan suami-istri memilih untuk berpisah.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tangsel, Abdul Rojak.

"Ya rata-rata di Tangsel itu kan satu tahun itu di masa normal saja mencapai 3.000-2.500 kasus perceraian terjadi. Mungkin bisa karena pandemi ini bisa diatas 3.000 atau berada di jumlah yang sama 2.500 sampai 3.000," ujar Abdul Rojak, saat dihubungi TribunJakarta.com, Selasa (18/8/2020).

Panduan Mendaftar Nikah Secara Online di Kementerian Agama saat Pandemi Covid-19

Batal Liburan, Pelajar Ini Beri Uang Tabungan untuk Bantu Warga Terdampak Covid-19

Abdul Rojak menjelaskan, angka perceraian meningkat 10 persen selama wabah pandemi covid-19.

"Kalau kita hanya memberikan rekomendasi kalau dianggap pasangan itu memang sudah enggak bisa dipertahankan. Tapi ada juga pasangan langsung ke pengadilan agama tanpa melalui rekomendasi Kementerian Agama jadi sifatnya kita hanya pendampingan saja. Banyak kenaikannya, ya sekitar 10 persen," ujar Abdul Rojak.

Abdul Rojak. mengatakan ada tiga faktor utama perceraian di tengah pandemi itu, dari mulai ekonomi hingga agama.

"Rata rata satu faktornya, faktor ekonomi, kedua ketahanan keluarga yang lemah, ketiga ya faktor agama lemah keimanan, lemah ketakwaan ya benteng keagamaannya yang lemah, jadi mudah menyerah. Dari tiga faktor itu ya yang paling nampak ke permukaan faktor ekonomi," kata Abdul Rojak.

Peran UMKM untuk Bantu Pertumbuhan Ekonomi Banten yang Minus Akibat Pandemi Covid-19

Menurut Abdul Rojak, lemahnya iman terhadap agama juga kerap menjadi faktor perceraian.

Terkait faktor ekonomi, pemutusan hubungan kerja (PHK), juga menjadi masalah tersendiri.

Tidak adanya pemasukan akibat menganggur membuat cikal bakal cekcok keluarga yang berujung talak.

"Kalau itu faktor pekerjaan, kalau dari faktor rumah tangganya ya terjadi cekcok, terjadi silang pendapat yang tidak ada titik temu ya akhirnya diselesaikan di pengadilan," tambah Abdul Rojak.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul 3.000 Pasangan Tercatat Cerai di Tangerang Selatan Setiap Tahun, Selama Pandemi Jumlahnya Naik 10%,

Editor: Glery Lazuardi
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved