Breaking News:

Api Abadi Mrapen Padam, Sempat Terdengar Suara Gemuruh, Nyala Selama 4 Abad Sejak era Sunan Kalijaga

Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, akhirnya padam.

Editor: Glery Lazuardi
(KOMPAS.COM/PUTHUT DWI PUTRANTO NUGROHO)
Pengelola Api Abadi Mrapen memastikan Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah telah padam, Minggu (3/10/2020). 

TRIBUNBANTEN.COM, GROBOGAN - Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, akhirnya padam.

Api Abadi Mrapen itu disinyalir sudah menyala sejak akhir masa Kerajaan Majapahit di awal abad ke-16.

Hingga saat ini, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng masih berupaya mengkaji penyebab terhentinya suplai gas di sumber api legendaris tersebut.

Dicari Tiga Hari di Pantai Ciantir, Wisatawan asal Jakarta Ditemukan Sudah Meninggal Dunia

PVMBG: Gunung Anak Krakatau Berpotensi Membahayakan, Wisatawan Dilarang Mendekat

Pengelola Api Abadi Mrapen, David Diyanto menyampaikan, api biru yang berkobar melalui lubang pipa di titik sumber Api Mrapen perlahan mengecil sejak sepekan lalu hingga akhirnya padam total pada 25 September.

Awalnya, api yang menyala setinggi 25 sentimeter dari mulut pipa sudah tak terlihat lagi. Petugas lantas berupaya membongkarnya.

Saat itu bau khas gas serta suara gemuruh dari dalam tanah masih terdengar.

Namun, ketika disulut, api kian meredup.

"Sampai akhirnya tepat pada tanggal 25 September, Api Abadi Mrapen benar-benar padam. Saat itu kami biarkan dulu selama lima hari, siapa tahu api itu akan berkobar lagi. Namun, ternyata nihil hingga akhirnya kami melaporkan ke pemerintah," kata David saat ditemui Kompas.com, di lokasi, Minggu (3/10/2020).

Kobaran Api Abadi Mrapen terpantau mulai tak stabil saat ada pengeboran sumur yang lokasinya berjarak sekitar 150 meter pada 12 September.

Saat itu pengeboran sedalam 30 meter untuk mencari sumber air justru menyemburkan air bercampur gas yang akhirnya harus dihentikan.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved