Breaking News:

Korupsi Material Jalan, Mantan Kadis PUPR Kota Cilegon dan Dua Sahabat Dijebloskan ke Penjara

Kasus korupsi ini terungkap berawal dari kejadian ambrolnya jalan JLS Cilegon arah Anyer yang baru dibangun pada 25 April 2018.

Korupsi Material Jalan, Mantan Kadis PUPR Kota Cilegon dan Dua Sahabat Dijebloskan ke Penjara
Dok. Tribun Jateng
ilustrasi

Laporan wartawan Tribunbanten.com, Marteen Ronaldo Pakpahan

TRIBUNBANTEN.COM, CILEGON - Mantan Kepala Dinas PUPR Kota Cilegon Nana Sulaksana ditahan oleh Kejaksaan Tinggi Banten pada Jumat (9/10/2020).

Dia sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus korupsi proyek Jalan Lingkar Selatan tahun 2013 dengan kerugian negara sebesar Rp 1,3 Miliar.

"Hari ini tahap kedua. Kami menyerahkan tanggung jawab jaksa penyidik ke jaksa penuntut umum. Untuk bentuk penyerahannya berupa barang bukti dan tersangkanya," ujar Kepala sesi Penyidikan Kejati Banten, Zaenal Efendi saat dihubungi, Jumat (9/10/2020).

Selain mantan Kepala Dinas PUPR Kota Cilegon Nana Sulaksana, Kejati Banten juga menahan dua tersangka lainnya yakni Tb Dhony Sudrajat sebagai kontraktor dan Syachrul sebagai kontraktor PT Respati Jaya Pratama, atas kasus yang sama.

Zaenal mengatakan pihaknya melakukan upaya paksa penangkapan dan penahanan karena ketiga tersangka karena juga dalam rangka pelimpahan berkas perkara Tahap II dari jaksa penyidik Kejati Banten ke jaksa penuntut Kejari Kota Cilegon.

Pelimpahan tersebut harus disertakan para tersangka dan barang bukti.

Selanjutnya, ketiga tersangka dijebloskan ke Rumah Tahanan Klas II Kota Cilegon.

Kasus korupsi ini terungkap berawal dari kejadian ambrolnya jalan JLS Cilegon arah Anyer yang baru dibangun pada 25 April 2018.

Titik ambrolnya jalan berada di KM 8,7 di Kelurahan Lebak Denok, Kecamatan Citangkil, dengan diameter dan kedalaman lubang sekitar 10 meter.

Kasus Dugaan Korupsi Bansos Covid-19 Ditangani Polda Banten, 2 di Lebak dan 1 di Kabupaten Tangerang

Kejati Banten Usut Dugaan Korupsi di Tiga Bank Ternama

Ilustrasi jalan ambrol atau ambruk
Ilustrasi jalan ambrol atau ambruk (KOMPAS.com/SYARIFUDIN)

Dari kejadian itu,  Kejati Banten kemudian melakukan penyelidikan pada 2019.

Dan akhirnya terungkap bahwa proyek jalan tersebut disinyalir terjadi korupsi dalam pengerjaannya.

Proyek JLS Cilegon pada 2013 menghabiskan anggaran Rp 14 miliar dan dikerjakan oleh PT Respati Jaya Pratama.

Setelah dilakukan audit, terungkap adanya kerugian negara dari proyek tersebut sebesar Rp 1.300.066.008.

Dugaan sementara, proyek pengerjaan jalan lintas selatan oleh PT Respati Jaya Pratama tidak sesuai dengan rancangan volume pekerjaan.

"Ada beberapa item material. Item itu yang dihitung dari kerugian, dari saksi ahli. Itu kekurangan volume pembangunan tersebut. Seperti beton, ketebalannya. Misalnya di RAB-nya (Rancangan Anggaran Biaya) sehaeusnya 250, tapi yang kami temukan hanya 200," jelas Zaenal.

Ketiga tersangka dijerat Pasal 18 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved