Breaking News:

Saat Nur Azizah-Ruhamaben Kritik Petahaha di Debat, Tangsel Kota Autopilot dan Politik Pohon Kelor

Ruhamaben juga mengatakan, saat ini Kota Tangerang Selatan jadi kota autopilot karena berjalan dan berkembang sendiri tanpa adanya pemimpin.

Editor: Abdul Qodir
Tangkapan layar Youtube
Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan nomor urut 2 Siti Nur Azizah-Ruhamaben dalam debat publik Pilkada Tangerang Selatan yang disiarkan langsung Kompas TV, Minggu (22/11/2020). 

TRIBUNBANTEN.COM - Debat publik Pilkada Tangerang Selatan yang dihelat KPU setempat dan disiarkan Kompas Tv pada Minggu (22/11/2020) malam, menjadi ajang unjuk kekuatan ide dan gagasan untuk Tangsel guna mencuri perhatian calon pemilih.

Tiga pasangan calon (paslon) mulai dari paslon nomor urut 1 Muhammad-Rahayu Saraswati (Sara), nomor urut 2 Siti Nur Azizah dan Ruhamaben, dan paslon nomor urut 3 Benyamine Davnie-Pilar Saga Ichsan berebut panggung, saling serang untuk menunjukkan kepantasan mereka dalam memimpin Kota Tangerang Selatan.

Pasangan nomor urut 2 Siti Nur Azizah atau dikenal dengan Azizah Maruf dan Ruhamaben memberikan banyak sindiran terhadap kerja petahana yang dinilai tidak bekerja dengan baik.

Ruhamaben mengatakan Tangsel selama 12 tahun seperti tidak ada prestasi khusus yang dicapai oleh daerah dengan julukan Kota Anggrek tersebut.

"Masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang masih terabaikan dan seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah," tutur Ruhama dalam sesi penutup debat Pilkada Tangsel.

Tangkapan gambar debat publik Pilkada Tangsel yang disiarkan langsung KompasTV pada Minggu (22/11/2020).
Tangkapan gambar debat publik Pilkada Tangsel yang disiarkan langsung KompasTV pada Minggu (22/11/2020). (istimewa)

Ruhamaben juga mengatakan, saat ini Kota Tangerang Selatan jadi kota autopilot karena berjalan dan berkembang sendiri tanpa adanya pemimpin.

Hal tersebut, kata dia, terlihat dari beragam pembangunan di Tangsel yang banyak dimiliki oleh pengembang swasta, bukan oleh Pemerintah Tangsel.

"Pembangunan Kota Tangsel dimiliki swasta bukan pemerintah, wajar jika Tangsel menjadi kota autopilot," kata Ruhamaben.

Dia juga menyindir soal pembangunan yang tidak dirasakan oleh masyarakat Tangsel karena pengembang swasta hanya memiliki segmen tertentu untuk melakukan pembangunan.

"Wajar jika pemerataan pembangunan di Kota Tangsel tidak dirasakan oleh masyarakatnya, wajar jika jurang ketimpangan makin menganga, wajar jika masalah lapangan kerja, banjir, macet, lingkungan, transportasi dan infratruktur dan masalah lainnya seolah tidak menemukan secercah cahaya," kata dia.

Baca juga: Siti Nur Azizah Ajak Warga Tangsel Lestarikan Tanaman Kelor

Baca juga: Peneliti IPB-UI: Senyawa Jambu,Kulit Jeruk, dan Daun Kelor Antivirus Corona

Daun kelor
Daun kelor (Kompas.com)

Politik Pohon Kelor

Paslon nomor urut 2 ini lebih banyak menyerang petahana yang berada di nomor urut 3.

Azizah mengatakan, dalam akhir sesi debat bahwa pemerintahan Tangsel saat ini sudah kebal dengan penderitaan masyarakat Tangsel.

"Masyarakat membutuhkan perubahan, masyarakat membutuhkan udara segar kepemimpinan. Karena kepemimpinan saat ini sudah kebal pada penderitaan masyarakat," ujar Azizah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved