Breaking News:

Kisah Kakek 65 Tahun Penjual Pisang Asal Banten, Jalan Kaki Keliling Rangkasbitung Tanpa Lelah

Di tengah teriknya matahari, Sermalan (65) masih kuat melangkahkan kakinya berkeliling Rangkasbitung sambil memikul pisang dagangannya.

TribunBanten.com/Desi Purnamasari
Sermalan (65), kakek penjual pisang asal Kabupaten Serang, Banten 

Laporan wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Di tengah teriknya matahari, Sermalan (65) masih kuat melangkahkan kakinya berkeliling Rangkasbitung sambil memikul pisang dagangannya.

Kakek asal Desa Bojong Menteng, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten ini tak kenal lelah untuk berjualan pisang setiap hari, meski harus berjalan kaki berkilo-kilometer.

Untuk menuju Rangkasbitung, Sermalan harus menggunakan kendaraan umum sejak pagi hari.

"Sudah biasa jualan jalan kaki keliling berkilo-kilometer, memang dari semenjak Rangkasbintung belum seperti saat ini sudah berjualan  jadi tidak berasa cape, dan saya pun masih kuat karena sudah terbiasa," ujarnya kepada TribunBanten.com, Selasa (12/1/2021).

Selama ini, Sermalan tinggal seorang diri setelah sang istri meninggal dunia karena sakit komplikasi.

Ia memiliki tiga orang anak namun sudah berkelurga dan tinggal berpisah dengannya.

Baca juga: Kisah-kisah Mengharukan Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Rute Jakarta-Pontianak

Baca juga: Anggota TNI Menangis di Kantor Polres: Bapak Pimpinan TNI, Tolong Kami  

Sermalan tak ingin menggantungkan hidup kepada anak-anaknya, sehingga ia memilih untuk berjualan pisang.

Pisang yang ia jual ada dua jenis yaitu pisang nangka dan pisang ambon.

Untuk harga pisang nangka Rp 10.000 satu sisir, sedangkan untuk harga pisang ambon dijual mulai dari Rp 20.000 sampai dengan Rp 25.000 per satu sisir.

"Sehari bisa lakunya 30 sisir tapi untuk sekarang jualannya sepi paling laku 20 sisir karena langganan nya biasanya guru-guru sekarangkan sekolah dari rumah jadi berkurang pembelinya," ucapnya.

Sermalan bercerita, ia sempat menjual pisangnya dengan sistem menitip ke pedagang.

Namun ternyata banyak pedagang yang tak jujur sehingga tidak bisa mendapatkan untung.

"Dulu saya jualannya dengan sistem ngutangin kepara pedagang, tapi banyak yang ngga bayar sampe sekarang, bukannya balik modal malah untung pun ngga ada," ucapnya sambil mengelap keringat-keringatnya.

"Sekarang jualannya keliling sendiri aja cape sedikit yang penting ada untungnya buat kebutuhan sehari-hari," tutupnya.

Penulis: desi purnamasari
Editor: Yudhi Maulana A
Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved