Breaking News:

Tahun Baru Imlek, Sejarah Etnis Tionghoa Masuk Banten, Jejak Batu Nisan Mandarin dan Masjid Pecinan

Masuknya etnis Tionghoa berawal dari kedatangan para pedagang dari Tiongkok ke Banten untuk berniaga pada 1522.

Penulis: Wijanarko | Editor: Glery Lazuardi
TRIBUNBANTEN/WIJANARKO
Etnis Tionghoa memberi warna dalam sejarah Banten. 

Menurut Fajar, revitasisasi Kawasan Wisata Sejarah di Banten Lama ini merupakan langkah Provinsi Banten untuk memberi kenyamanan bagi para pengunjung.

Terlihat disekeliling situs Masjid Pacinan, berjajar paving block yang membentuk jalan setapak selebar 2.5 meter.

Tampak pula berbagai macam tanaman hias dari bunga sepatu sampai bunga matahari tertanam di setiap sudut situs.

Terpasang juga 14 lampu taman di setiap sisi, tiga kursi kayu di depan pintu masuk dan satu gazebo berukuran 3x3 mater di bagian Utara.

Terbentuknya Kampung Pecinan

Pada saat datang ke Banten, orang-orang Tiongkok membawa barang-barang khas dari negaranya berupa sutera, kertas emas, kipas, peti dan lain-lain.

Barang-barang tersebut ditukarkan dengan rempah-rempah.

Orang Tiongkok membutuhkan rempah-rempah untuk dijadikan campuran minuman dan obat-obatan.

Lantaran proses bongkar muatan yang memerlukan waktu lama, akhirnya pedagang Tiongkok tinggal dan menetap di Banten.

"Lambat laun terbentuklah perkampungan Tiongkok atau Cina yang lebih dikenal dengan kampung Pecinan," ujar Mulangkara

Namun dalam versi lain disebutkan bahwa saat itu sempat terjadi perselisihan antara pedagang dari Tingkok dengan tokoh Banten.

"Saat itu Sunan Gunung Jati. Dari situ orang Tingkok mengakui kehebatan Sunan Gunung Jati dan kemudian oleh Sunan Gunung Jati ditempatkan di suatu tempat yaitu perkampungan Pacinan yang sekarang namanya menjadi Kampung Dermayon," tambahnya.

Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved