Breaking News:

Melongok Situs Patapan Peninggalan Zaman Megalitikum di Serang, Kerap Dikunjungi Peziarah

Bahrudin, pengurus Situs Patapan mengatakan, dahulu bebatuan ini dikelilingi oleh pepohonan besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun.

Penulis: desi purnamasari | Editor: Abdul Qodir
TribunBanten.com/Desi Purnamasari
Situs Patapan peninggalan zaman Megalitikum di Jalan Tambak Pamarayan, Kampung Patapan, Desa Nagara, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Sabtu (13/3/2021). 

  

Setelah mengetahui persembunyian Prabu Pucuk Umun, yang pada saat itu ia sedang membuat kursi dan meja Sultan Hasanudin mengejarnya.

  

Namun, Prabu Pucuk Umun bersama pengikutnya berhasil melarikan diri dengan menceburkan diri ke Rawa Ciateul.

  

Tempat menghilangnya Prabu Pucuk Umum kini disebut Kampung Bunian.

  

Baca juga: Nikmatnya Empal Daging Khas Serang Mang Deni, 20 Tahun Berdiri Tetap Ramai Diserbu Pembeli

  

Akhirnya tempat pertapaan itu dijadikan oleh Sultan Maulana Hasanudin sebagai tempat pertemuan para alim ulama untuk menyebarkan Islam di Wilayah ini.

  

Belum ada data secara pasti mengidentifikasi kapan munculnya situs ini, namun berdasarkan analogi bentuk bangunan pada altar dan pelinggih, diperkirakan situs patapan ini sebagai sebuah candi Hindu.

Situs Patapan peninggalan zaman Megalitikum di Jalan Tambak Pamarayan, Kampung Patapan, Desa Nagara, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Sabtu (13/3/2021).
Situs Patapan peninggalan zaman Megalitikum di Jalan Tambak Pamarayan, Kampung Patapan, Desa Nagara, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Sabtu (13/3/2021). (TribunBanten.com/Desi Purnamasari)

  

Satu di antara kota dagang pada masa Hindu di bawah kerajaan Pajajaran dan barang dagangannya pun persis sama dengan Banten.

Bahrudinpun menuturkan bahwa Situs Patapan ini setiap harinya sering dikunjungi para penziarah yang datang dari dalam maupun luar Kota.

  

Biasanya pada sore maupun malam hari. Namun, ziarah rutin yang biasa dilakukan adalah pada malam Rabu.

  

“Awalnya memang ini terbuka belum ada pagar sama sekali tapi pada 2012 mulai dipagar agar tidak dirusak," ujarnya saat ditemui di situs patapan.

  

Menurutnya, bebatuan ini baru sebagian yang terihat, di bawah tanah masih banyak bebatuan seperti ini.

  

"Harusnya situs ini diberi atap agar tidak kehujanan karena lamakelaman akan terkikis oleh tanah dan mudah rusak kalau dibiarkan terbuka,” jelasnya pria berusia 24 tahun tersebut.

  

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved