Breaking News:

Hakekok Balakasuta

Analisa Sosiolog Soal Aliran Hakekok di Pandeglang: Ritual Mandi dan Hubungan Intim Tanpa Nikah

Sosiolog Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Suwaib Amiruddin, menilai aliran Hakekok Balakasuta merupakan fenomena di masyarakat.

handover
Tangkapan layar video aliran Hakekok diduga sesat melakukan ritual mandi bareng di Pandeglang, Banten 

TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Sosiolog Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Suwaib Amiruddin, menilai aliran Hakekok Balakasuta merupakan fenomena di masyarakat.

Menurut dia, aliran itu terbentuk karena adanya kesepakatan bersama orang-orang di dalamnya.

Kelompok ini memiliki ide dan gagasan yang kemudian diimplementasikan dalam sebuah komunitas.

Kelompok ini berkembang karena pengikut-pengikutnya mempunyai tujuan yang sama.

“Persoalannya adalah tata kelakukan dan etika negara kita mengacu pada Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila,” kata Suwaib, saat diwawancari TribunBanten.com di Untirta Serang, Selasa (16/03/2021).

Baca juga: MUI Keluarkan Fatwa: Aliran Hakekok Menyimpang

Baca juga: Keseharian Anggota Aliran Hakekok di Pandeglang: Hidup Menumpang dan Bekerja Serabutan

Sehingga, kata dia, pada saat melakukan aktivitas sehari-hari harus mengacu pada norma di UUD 1945 dan Pancasila tersebut.

"Ada batasan-batasan sejauh mana kita dapat berprilaku," kata dia.

Dia menilai aliran Hakekok melanggar tiga hal. Yaitu secara aturan agama, aturan negara, dan norma di masyarakat.

Secara aturan agama, kata dia, beberapa fatwa yang dikeluarkan oleh tokoh agama menegaskan Hakekok adalah ajaran sesat dan menyimpang karena tidak sesuai dengan ajaran agama.

Secara aturan negara, dia menilai, aliran itu melanggar karena tidak sesuai aturan di UUD 45 dan Pancasila.

Halaman
12
Penulis: Amanda Putri Kirana
Editor: Glery Lazuardi
Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved