Breaking News:

Kisah Pilu Guru Honorer di Pelosok Pandeglang dan Asa di Balik Gaji Rp12.500 Per Hari

"Kadang saya dapat uang kadang tidak. Kalau semampunya sekolah itu Rp 12.500 per hari. Itu juga kalau hadir, kalau tidak hadir tidak dibayar," tuturny

TribunBanten.com/Marteen Ronaldo Pakpahan
Seorang guru honorer bernama Dedi Mulyadi (39) saat ditemui TribunnBanten.com di kediamannya di Kampung Baru, Desa Pasirlancar, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang, Rabu (31/1/2021). Selama 14 tahun menjadi guru honorer di SD di wilayahnya, Dedi digaji Rp12 ribu per hari. 

Namun, tidak semua warga mengetahui kondisi itu. Sebab, masih ada persepsi warga sekitar bahwa seorang guru mendapat gaji besar dan hidup sejahtera.

Padahal, hal itu tidak berlaku bagi dirinya yang seorang guru honorer dengan penghasilan Rp12 ribu per hari.

"Kadang saya dapat uang kadang tidak. Kalau semampunya sekolah itu Rp 12.500 per hari. Itu juga kalau hadir, kalau tidak hadir tidak dibayar," tuturnya.

Kerja Sampingan Demi Menyambung Hidup

Seorang guru honorer bernama Dedi Mulyadi (39) saat ditemui TribunnBanten.com di kediamannya di Kampung Baru, Desa Pasirlancar, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang, Rabu (31/1/2021). Selama 14 tahun menjadi guru honorer di SD di wilayahnya, Dedi digaji Rp12 ribu per hari.
Seorang guru honorer bernama Dedi Mulyadi (39) saat ditemui TribunnBanten.com di kediamannya di Kampung Baru, Desa Pasirlancar, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang, Rabu (31/1/2021). Selama 14 tahun menjadi guru honorer di SD di wilayahnya, Dedi digaji Rp12 ribu per hari. (TribunBanten.com/Marteen Ronaldo Pakpahan)

Tubuh Dedi terbilang kecil dan usianya belum tua, namun sudah tampak kerut di wajahnya.

Kedua telapak tangannya juga terkelupas dan ada sejumlah bekas luka menghitam di kakinya

Dedi menyebut kondisi di tubuhnya itu karena faktor kecapekan bekerja.

Ia menceritakan, dirinya juga melakoni sejumlah pekerjaan sampingan untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

Sebab, bayaran Rp12 ribu per hari dari jasa guru honorer tak mampu membiayai kebutuhan hidup sehari.

Baca juga: Kisah Inspiratif Juhdi, Keterbatasan Fisik Tak Membuatnya Menyerah

Baca juga: Kisah Pilu Nenek Penjual Pisang, Gendong Bakul Seberat 12 Kg dan Hidup Sebatang Kara di Gubuk

Selepas mengajar, Dedi mengaku bekerja sebagai petani sawah dan ladang, menjual voucher isi ulang di rumah hingga menjadi tukang ojek. 

Meski begitu, Dedi mengaku ikhlas dan bersyukur dengan apa yang telah dilakukannya selama 14 tahun ini.

Jalan Kaki 1 Kilometer dengan Medan Sulit Demi Sekolah

Dedi juga menceritakan, dirinya dan sebagian besar murid sekolahnya harus menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer dari kampung mereka ke sekolah.

Semua dilakukan dengan jalan kaki pada pagi hari.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved