Breaking News:

Tribunners

Kebijakan Lockdown akibat Pandemi Covid-19: Menjadi Berita Duka atau Bahagia bagi Lingkungan

Ledakan kasus terkonfirmasi menjadi petunjuk virus itu cepat ditularkan dari manusia ke manusia lewat kontak langsung.

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Cegah virus corona 

Perubahan itu dapat menimbulkan gangguan sosial ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap lingkungan, seperti peningkatan kualitas air dan udara, pemulihan ekologi, dan pengurangan kebisingan.

Peningkatan penggunaan alat pelindung diri (APD) yang proses pembuangannya dilakukan dengan tidak tepat akan menimbulkan beban mental atau berita duka bagi lingkungan.

Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk membenahi dan mengatasi permasalahan ini? Apakah 
kita hanya berdiam diri untuk menonton tragedi yang dibintangi oleh virus corona

Dampak Covid-19 Terhadap Lingkungan 

Wabah penyakit memang menjadi “momok” yang sangat mengerikan.

Selain karena virus itu mematikan, terdapat permasalahan lain yang ditimbulkan seperti rasa kecemasan yang berlebih bagi masyarakat.

Bahkan, terjadi gangguan global yang akan berdampak bagi lingkungan dan iklim karena adanya kebijakan lockdown sebagai hambatan pergerakan dan perlambatan yang signifikan dari kegiatan sosial dan ekonomi. 

Dengan adanya kebijakan lockdown, pemerintah berusaha untuk membatasi ruang gerak masyarakat, segala aspek kehidupan dibatasi atau bahkan diberhentikan sementara, seperti penutupan industri, perusahaan, dan transportasi.

Hal ini akan berdampak bagi perekonomian masyarakat, tetapi menjadi berita bahagia bagi 
lingkungan.

Mengapa demikian?

Baca juga: Hasil Investigasi WHO: Asal Mula Virus Corona Bersumber dari Tempat Ini

Seiring dengan penutupan industri, perusahaan dan transportasi maka terjadi penurunan secara signifikan polusi udara dan emisi gas rumah kaca (GFK) yang biasanya dapat dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, misalnya emisi NO2 yang dapat menyebabkan hujan asam dan infeksi saluran pernapasan manusia.

Dapat diasumsikan bahwa, kendaraan dan penerbangan menjadi kontributor utama emisi dengan masing-masing hampir 72% dan 11%.

Kebijakan lockdown secara global berdampak “drastis” bagi sektor penerbangan, banyak negara melarang para “pelancong” internasional masuk dan keluar.

Selain itu, masyarakat pun mengisolasi diri dengan melakukan segala aktivitasnya dari rumah sehingga tidak ada kemungkinan terjadi perjalanan dengan menggunakan kendaraan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved