Breaking News:

Wisata Religi di Banten: Menyusuri Situs Banten Girang & Ziarah ke Makbaroh Ki Jong Mas dan Agus Ju

Provinsi Banten mempunyai sejumlah tempat wisata. Salah satu di antaranya, yaitu Situs Banten Girang, peninggalan Kerajaan Banten Girang.

Penulis: Amanda Putri Kirana | Editor: Glery Lazuardi
TRIBUNBANTEN/AMANDAPUTRIKIRANA
Situs Banten Girang, peninggalan Kerajaan Banten Girang 

“Ini ditulis oleh ayah saya, sebagai kesepuhan Situs Girang Banten. Beliau memang paham betul dengan sejarah Banten,” kata Ahmad.

Di sisi kanan dan kiri bingkai terdapat pintu untuk masuk ke ruangan berdoa para penziarah.

Terdapat dinding besar bertuliskan “Masjong dan Agus Jus” dalam tulisan arab gundul, sebagai sekat antara ruang berdoa dengan Makbaroh.

Di sisi kiri dinding terdapat pintu yang terkunci sebagai satu-satunya akses masuk Makbaroh.

Peziarah sedang berdoa
Peziarah sedang berdoa (TRIBUNBANTEN/AMANDAPUTRIKIRANA)

“Makbaroh yang merupakan tempat peristirahatan terakhir KI Masjong dan Agus Ju sebenarnya dibuka untuk umum, namun warga harus izin dulu ke kita jika mau berdoa di dalam. Tidak bisa sembarang masuk,” ujar Ahmad

Hal ini dilakukan pihaknya untuk meminimalisir kerusakan yang terjadi sebagai bentuk pengamanan terhadap mukbaroh.

“Tempatnya tidak besar, jika serombongan yang masuk tentu tidak akan cukup. Makanya tersedia ruang berdoa persis di depan Makbaroh,” jelas pria 24 tahun ini.

Di dalam ruangan Makbaroh, terdapat empat kuburan yang berjajar.

Dua di antaranya Ki Masjong dan Agus Ju, dan dua lainnya para ulama yang juga berjasa dalam mengukuhkan agama Islam di Banten.

Berdasarkan pantauan TribunBanten.com, Makbaroh Ki Masjong dan Agus Ju dibangun di keramik putih setinggi kurang lebih 70 sentimeter dengan nisan dan bagian atasnya ditutupi oleh kain putih.

Selain untuk melindungi nisan dan bagian atas makbaroh, kain putih juga diberi wewangian dupa atau parfum.

Untuk kepala nisan, Ahmad menjelaskan, makbaroh Ki Masjong didesain berdasarkan seni Demak dan Agus Ju berdasarkan seni Aceh.

Kedua Makbaroh ditutup oleh kelambu hitam dan tirai renda putih.

Ahmad menjelaskan bahwa makam dan makbaroh atau kuburan adalah dua hal yang berbeda dan masyarakat seringkali salah kaprah soal dua istilah tersebut.

Makam merupakan tempat yang pernah disinggahi oleh manusia yang masih hidup, sedangkan makbaroh adalah tempat peristirahatan terakhir manusia yang sudah tidak bernyawa.

“Contohnya saat ini saya sedang berada di Situs Banten Girang, maka salah satu makam saya berada di sini karena pernah saya singgahi. Tempat-tempat yang ditinggali jejak pokoknya,” jelas Ahmad.

Menjelang Bulan Ramadan 1442 H, makbaroh Situs Banten Girang cukup ramai dikunjungi oleh para penziarah kata Ahmad.

“Meskipun tidak seramai sebelum masa pandemi Covid-19, tapi ya lumayan. Ada puluhan penziarah tiap harinya yang memang warga Banten itu sendiri ataupun berasal dari luar kota,” imbuhnya.

Makbaroh Situs Banten Girang buka setiap hari, yakni mulai Senin sampai Minggu selama 24 jam.

Peziarah tidak dikenakan biaya sepeser pun saat mengunjungi Situs Banten Girang.

Muhammad Aliun (49), pengurus Situs Banten Girang yang juga merupakan Ketua Komunitas Laboratorium Banten Girang menjelaskan, ziarah merupakan ritual rutin untuk menghormati leluhur yang telah meninggal.

Proses penghormatan diiringi dengan pemanjatan doa atas jasa-jasa yang telah para sepepuh atau leluhur berikan untuk Banten.

“Masyarakat kita mayoritas umat islam, tentunya ziarah menjadi bentuk menghargai dan rasa syukur mereka atas jasa Mas Kijong dan Agus Ju sebagai orang islam pertama di Banten. Seperti nengok sesepuh gitu,” jelas Aliun.

Tidak dibenarkan jika ada warga yang berziarah dengan maksud tujuan lain seperti, tempat mencari rezeki hingga kesaktian.

“Budaya kita tercampur-campur. Sejarah, mitologi, dan sugesti sering kali digabung oleh sejumlah masyarakat sehingga muncul kesalahan-kesalahan dalam menyerap informasi,” ujarnya.

Disinformasi tersebut juga tidak jarang diturunkan kepada anak cicit mereka dan dianggap menjadi sebuah kebenaran, seperti konsep pamali.

Pamali merupakan kata yang sering disebutkan terutama oleh orang tua dengan maksud melarang agak tidak melakukan suatu tindakan tertentu.

“Pamali ini artinya dosa. Kita mencuri dan membunuh ya pamali. Bukan pamali seperti anak gadis yang duduk di tengah pintu akan kesulitan mendapat jodoh. Makanya harus paham sejarah dulu sebelum berziarah kesini,” tutur Aliun.

Wahanten Girang atau Banten Girang diketahui merupakan pusat ibu kota Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan Sriwijaya yang didirikan pada 932 Masehi dan berkuasa selama lima abad di Tanah Banten.

Sebelum berwujud sebagai suatu kesultanan, wilayah Banten termasuk bagian dari Kerajaan Sunda Pajajarandengan masa kekuasaan Prabu Pucuk Umun Banten.

Agama yang dianut Prabu Pucuk Umun dan rakyatnya ketika itu adalah Hindu dan Budha.

Adapun Surosowan Banten Ilir atau Banten Lama pada masa itu berfungsi sebagai pelabuhan.

Di tepi Sungai Cibanten, terdapat goa buatan yang dipahat pada sebuah tebing jurang.

Gua ini memiliki dua pintu masuk yang di dalamnya terdapat tiga ruangan.

Abdu Hasan, kesepuhan dan kuncen utama Situs Banten Girang menjelaskan setelah beberapa waktu, Banten Girang akhirnya ditaklukan oleh pasukan Islam yang berasal dari Demak dan Cirebon dan berdirilah Kesultanan Banten.

“Dengan bantuan dua tokoh Ki Masjong dan Agus Jo, Hasanudin mengajak Raja Pajajaran yakni Pucuk Umun untuk masuk Islam,” kata pria yang biasa dipanggil Abah ini.

Atas penunjukan sultan Demak, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin diangkat sebagai bupati Kadipaten Banten.

Pada tahun 1552 Kadipaten Banten diubah menjadi negara bagian Demak dengan tetap mempertahankan Maulana Hasanuddin sebagai sultannya.

Ketika kesultanan Demak runtuh dan diganti Pajang (1568), Maulana Hasanuddin memproklamasikan Banten menjadi negara merdeka, lepas dari pengaruh Demak.

Sultan Maulana Hasanuddin memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570).

Ia telah memberikan andil terbesarnya dalam meletakkan fondasi Islam di Nusantara, dibuktikan dengan kehadiran bangunan peribadatan berupa masjid dan sarana pendidikan Islam, seperti pesantren dan mengirim mubalig ke berbagai daerah yang dikuasainya.

Abah Abdu Hasan menuturkan, secara keseluruhan luas Situs Banten Girang ±8 hektare dan sebagian besar lahan telah dipakai untuk pemukiman warga.

Berdasarkan peta situasi Situs Banten Girang, terdapat beberapa pembangunan peninggalan zaman lampau seperti gua, punden, dan jembatan-jembatan yang masih ada hingga saat ini.

“Sayangnya, situs dengan berjuta sejarah ini masih minim campur tangan pemerintah,” tutur Abah Abdu Hasan.

Ia mengatakan pemeliharan hingga pembangunan situs ini masih mengandalkan sumbangan masyarakat dan peziarah atau menggunakan dana pribadinya.

“Bahkan mushola dibangun dari hasil sumbangan dermawan yang bukan orang islam. Dermawan tersebut beberapa kali ziarah ke makan,” jelas Abad Abdu Hasan.

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved