Breaking News:

Pemerintah Prediksi 10 Juta Orang Tetap Mudik Meski Dilarang, Setara Jumlah Penduduk Singapura

Sekitar 10 juta orang akan melakukan aktivitas mudik Lebaran 1442 H meskipun dilarang pemerintah. Pemerintah melarang aktivitas mudik mulai 6-17 Mei

TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S
Ilustrasi mudik Lebaran 

TRIBUNBANTEN.COM - Sekitar 10 juta orang akan melakukan aktivitas mudik Lebaran 1442 H meskipun dilarang pemerintah.

Pemerintah melarang aktivitas mudik mulai dari tanggal 6-17 Mei 2021.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengatakan potensi 10 juta pemudik di lebaran ini didapat melalui hasil penghitungan pengamatan aktivitas mudik yang dilarang 2020.

Ketika itu, 13 persen warga dari total pemudik pada hari-hari lebaran tanpa larangan, tetap ngotot mudik meski telah dilarang pemerintah.

"Jadi angka pemudik kita itu antara 73 sampai 83 juta itu kalau seandainya dilepas tidak ada larangan, itu akan ada 73 juta orang bermudik ya dan kalau dilarang itu potensinya masih sekitar 13 persen, maksud saya jadi masih 13 persen dari total itu, jadi sekitar ya mungkin sekitar hampir 10 jutaan," kata Muhadjir saat memberi sambutan dalam acara Untung Rugi Mudik di Tengah Pandemi yang disiarkan langsung melalui YouTube BPKN, dikutip Rabu (21/4).

Baca juga: Mendagri Tito Karnavian Minta Kepala Daerah Beri Sanksi Bagi Pelanggar Aturan Mudik Lebaran

Baca juga: Larangan Mudik Lebaran 2021, Ada 2 Titik Penyekatan Mudik di Tangerang, Ini Lokasinya

Jika dibandingkan jumlah pemudik saat tak ada larangan ditetapkan, prediksi angka 10 juta ini tergolong kecil. Namun angka ini kata dia hampir setara jumlah penduduk di Singapura.

Untuk itu, pemerintah terus berupaya menekan angka pemudik yang tetap bandel pulang kampung meski telah dilakukan pelarangan.

Sebab kata dia berapa jumlahnya potensi angka itu bisa berakibat jumlah kasus positif covid-19 yang tengah berusaha ditekan pemerintah.

"Itu cukup heboh itu cukup semrawut karena itu berarti dua kali lipat dari penduduk Singapura jadi kelihatannya 10 juta (sedikit) tapi itu sudah dua kali lipat dari penduduk Singapura dan sekarang pemerintah memang berupaya keras bagaimana memperkecil lagi jumlah yang tidak patuh melaksanakan aturan mudik itu," kata dia.

Larangan mudik dilakukan agar kejadian yang pernah terjadi di 2020 tak terulang.

Kala itu kenaikan kasus covid-19 naik hingga 93 persen pascalebaran.

Tak hanya itu, angka total itu juga semakin diperparah dengan sejumlah klaster libur keagamaan lainnya yang juga mencatatkan penambahan angka infeksi covid-19.

Baca juga: Larangan Mudik Berlaku untuk Semua, Jubir Presiden: Jokowi & Pejabat Negara Tak Bepergian

Baca juga: Larangan Mudik, Pekerja Boleh Bepergian bila Kondisi Darurat, Ini Syaratnya

"Kematian itu memang takdir Tuhan, takdir Allah tapi kan kita juga punya tanggung jawab untuk mencegah jangan sampai terjadi kematian yang sebetulnya bisa dicegah," kata Muhadjir.

"Kita kan punya hak untuk melakukan ikhtiar. Karena itu, inilah yang menjadi dasar kenapa pemerintah tahun ini kembali menetapkan bahwa mudik ditiadakan," jelasnya.

Editor: Glery Lazuardi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved