Breaking News:

Sate Beracun Berujung Maut

Dua Bukti Ini Jadi Kunci Penangkapan Wanita Pengirim Sate Beracun, Siapkan Sianida dari 3 Bulan Lalu

Polisi mengungkapkan adanya dua bukti yang menjadi kunci utama keberhasilan penangkapan wanita pengirim sate beracun di Bantul, Yogyakarta.

KOMPAS.COM/MARKUS YUWONO
Tersangka Pengiriman Sate NA di Mapolres Bantul Senin (3/5/2021) 

"Betul, yang bersangkutan adalah penyidik senior di Reskrim Polresta Yogyakarta, pangkatnya Aiptu," ujar Timbul.

Timbul membeberkan bahwa T telah menangani ratusan kasus kriminal.

Penelusuran yang dikutip dari Tribun Jogja, T pernah mendapatkan penghargaan dari Polda DIY pada 2017 silam sebagai penyidik terbaik.

Timbul pun menegaskan bahwa T merupakan penyidik senior dengan kinerja yang baik.

"Ya karena sudah senior direskrim Polresta, artinya memang bisa bekerja," tegas Timbul.

Racun yang digunakan wanita tersebut telah diketahui berdasarkan hasil uji laboratoium merupakan jenis C.

Baca juga: Bungkusan Sate Beracun dari Wanita Berkulit Putih Renggut Nyawa Anak SD, Nama Hamid Jadi Misteri

Ciri-Ciri Wanita Misterius yang Beri Sate Beracun

Polisi masih melakukan pencarian terhadap wanita misterius yang kirim sate beracun melalui sopir ojek onlien hingga sebabkan seorang bocah SD tewas.

Berdasarkan informasi yang didapat dari Tribun Jogja, sopir ojek online yang merupakan ayah korban, Bandiman, mengutarakan ciri-ciri wanita misterius itu.

Menurut pengakuan Bandiman, wanita itu masih muda, memiliki kulit tubuh berwarna putih dan tinggi badannya sekitar 160 cm.

Bandiman pun mengungkapkan warna baju yang dikenakan wanita itu ketika menemuinya adalah krem.

"Dia mengatakan bahwa tidak punya aplikasi, dan meminta mengirimkan paket takil ke seseorang bernama Tomi di Villa Bukit Asri, Sembungan, Kasihan, Bantul," ujarnya dikutip dari Tribun Jogja, Selasa (27/4/2021.

Bandiman menjelaskan kronologi saat ia menerima sate misterius itu.

Kejadian itu berawal dari dirinya yang usai menunaikan salat asar di salah satu masjid di Kota Yogyakarta.

Tiba-tiba Bandiman dihampiri wanita tak dikenal di masjid yang meminta antarkan makanan.

Bandiman memaparkan kalau alamat beserta nomor penerima telah tertera di atas paket makanan.

Namun saat Bandiman meminta wanita ini untuk menggunakan aplikasi ojek online, ia menolak.

"Waktu saya siap-siap jalan, tiba-tiba ada perempuan menghampiri saya,"

"Dia minta tolong antarkan paket ke daerah Kasihan ke pak Tomy,"

"Saya bilang, pakai aplikasi saja. Terus mbaknya alasannya gak ada aplikasi Ojol," kata Bandiman.

Bandiman tidak tahu siapa wanita itu namun Bandiman hanya diminta menyebut nama pengirim yang terdengar seperti nama pria.

"Dia minta offline, ya saya antarkan ke penerima tersebut. Perempuan itu berpesan, pengirim atas nama pak Hamid," ungkap Bandiman.

Ilustrasi Racun
Ilustrasi Racun (patriciaflor.com)

Penerima Paket Menolak

Sesampainya Bandiman di lokasi yang ia tuju untuk mengantarkan makanan itu, tetapi penerima justru menolak.

Penerima bernama Tomy itu menolak dengan alasan sedang berada di luar kota.

Namun Bandiman terus memaksa agar penerima tetap menerima makanan tersebut atau diberikan ke orang rumahnya.

Tetapi penerima bersikukuh kembali menolak dengan menggunakan alasan lain yaitu tak mengenal nama pengirim.

"Saya tanya, lah ini paket sudah sampai alamatnya bener, nomornya bener kok ndak diterima. Terus bapaknya bilang, udah dibawa kamu saja pak, buat buka puasa," ucap Bandiman.

Akhirnya karena tetap ditolak oleh Tomy dan diminta bawa pulang saja, Bandiman membawa ke rumah sate itu.

Racun Diduga dicampur di Bumbu Sate

Bandiman pun menyantap sate itu sebagai menu buka puasa bersama keluarganya.

Bandiman memakan sate bersama anaknya yang lain tak menggunakan bumbu.

Sedangkan istri dan korban memakan sate menggunakan bumbu dan langsung muntah-muntah.

"Pas saya makan itu gak apa-apa. Ternyata racunnya itu ditaruh dibumbunya. Anak saya bilang bumbunya pahit,"

"Dia lalu ke dapur dan sudah muntah-muntah. Istri juga muntah-muntah. Pas tak pastikan anak saya sudah tidak sadarkan diri," jelas Bandiman.

Bandiman yang panik langsung membawa korban ke rumah sakit terdekat.

Sayangnya, nyawa sang anak tak bisa tertolong.

Berdasarkan hasil pemeriksaan rumah sakit, Bandiman menerangkan kalau anaknya meninggal diduga karena mengonsumsi makanan beracun.

"Sudah meninggal pas perjalanan ke rumah sakit. Tapi hasil pemeriksaan di laboratorium itu katanya racunnya lebih kuat dari racun pupuk pertanian," kata Bandiman.

Penulis: Zuhirna Wulan Dilla
Editor: Yudhi Maulana A
Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved