Breaking News:

Cerita Para Petani Perempuan di Tengah Deru Industri Kota Cilegon

Ia menceritakan mulai menanam bibit maupun memanen padi di sawah penuh lumpur itu sejak pagi buta hingga sore hari.

Penulis: Khairul Ma'arif | Editor: Abdul Qodir
TribunBanten.com/Khairul Ma'arif
Kemisah (61) dan beberapa petani perempuan tengah menanam bibit di area persawahan di tepi Jalan Cik Ditiro, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, Sabtu (19/6/2021).  

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Khairul Ma'arif

TRIBUNBANTEN.COM, CILEGON - Kota Cilegon, Banten, dikenal dengan sebutan kota industri mengingat menjadi wilayah penghasil baja terbesar di Asia Tenggara.

Selain Kawasan Industri Krakatau Steel yang menjadi penghasil  6 juta ton baja per tahun, kini sudah berjamur perusahaan penghasil produk serupa di ujung barat laut Pulau Jawa ini.

Meski begitu, ternyata di kota ini masih menyisakan beberapa titik area persawahan yang digarap sejumlah petani perempuan, seperti di Jalan Cik Ditiro, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber.   

Pantauan TribunBante.com pada Sabtu (19/6/2021), ada enam petani perempuan yang tengah menanam bibit padi di beberapa petak sawah seluas sekitar 300 meter persegi, dekat Stadion Seruni Kota Cilegon.

Menariknya, petani perempuan rata-rata sudah lanjut usia, yakni di atas 60 tahun.

Baca juga: Cerita Pilu Pasutri Tinggal di Kandang Ayam Beratap Daun Selama 7 Tahun, Setiap Hujan Basah Kuyup

Baca juga: Helldy akan Jadikan Industri di Kota Cilegon Sebagai Bapak Asuh, Target 14 Ribu Pekerja Magang

Mereka merupakan buruh petani yang dibayar jasanya untuk menggarap sawah milik orang lain.

"Jadi, kami disuruh garap sawah punya Pak Haji di sana tuh," ujar salah seorang petani perempuan bernama Kemisah.

Kemisah dan lima temannya itu merupakan warga sekitar persawahan yang sering dibayar tenaganya untuk menggarap sawah seorang warga.

Baca juga: Sebanyak 555 Petani di Cilegon Dapat KTI, Bisa Peroleh Pupuk Bersubsidi Setengah Harga

Ia menceritakan mulai menanam bibit maupun memanen padi di sawah penuh lumpur itu sejak pagi buta hingga sore hari.

"Sehari dibayarnya Rp 70 ribu. Besok kami masih garap di sini, malah orangnya lebih banyak," tambahnya.

Kemisah sehari-hari bekerja mencari rongsokan saat tidak diminta menjadi buruh petani.

"Saya sudah dari dulu garap sawah. Tapi kadang ganti pekerjaan lain jika tidak ada yang nyuruh garap. Maklum enggak punya lahan sendiri," tuturnya.

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved