Breaking News:

Rans Cilegon FC

Liga 2 Ditunda, Rudy Salim Lakukan Subsidi Silang Agar Bisa Tetap Gaji Pemain RANS Cilegon FC

Presiden Direktur RANS Cilegon FC, Rudy Salim tak begitu terlalu memusingkan terkait kondisi keuangan dari klub sepakbolanya itu

Editor: Yudhi Maulana A
Tribunnews.com Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Rafi Ahmad (tengah) menerima Jersey dari Bambang Nurdiansyah (kiri), disaksikan Presiden Direktur Prestige Motorcars Rudy Salim (kanan) saat peluncuran logo Rans Cilegon United Football FC di Jakarta Utara, Rabu (31/3/2021). Chairmans RANS Cilegon akan laga uji coba melawan Arema FC. 

TRIBUNBANTEN.COM - Pandemi Covid-9 gelombang kedua ini memberikan dampak cukup parah terhadap sebagian besar sektor, tak terkecuali olahraga sepakbola.

Perhelatan Liga 1 dan Liga 2 musim 2021-2022 yang direncakan akan bergulir dalam waktu dekat ini terpaksa ditunda.

Hal itu tentu membuat pusing para pengelola klub sepakbola.

Namun, bagi Presiden Direktur RANS Cilegon FC, Rudy Salim tak begitu terlalu memusingkan terkait kondisi keuangan dari klub sepakbola yang ia bangun bersama selebriti ternama Raffi Ahmad.

"Tentunya dengan adanya penundaan kompetisi sangat berdampak bukan hanya bagi pemilik klub, tetapi banyak stake holder lainnya, misalnya pemain, pelatih, petugas lapangan, pelaku UMKM dan lainnya. Di sisi lain, secara mental juga tidak baik bagi pemain, di mana mereka berlatih tiap hari tapi belum jelas kapan bertandingnya," ungkapnya dikutip dari Kontan.co.id, Minggu (4/7/2021).

Memang secara umum, Rudy melihat bahwa pandemi Covid-19  tidak hanya berdampak pada bisnis sepak bola, tetapi juga ke sektor lainnya semisal pariwisata dan penerbangan.

Baca juga: RANS Cilegon FC Bakal Ditantang Persiraja Banda Aceh Bila Bertandang ke Jakarta

Lebih lanjut, Rudy menjelaskan, jika membandingkan struktur permodalan dan biaya antara klub sepak bola dengan sektor  industri lainnya yang terdampak pandemi, tentu berbeda.

Pada industri penerbangan misalnya, butuh modal kerja dan biaya yang besar. Sedangkan, klub bola pengeluaran terbesar untuk gaji pemain dan pelatih.

"Selain gaji untuk pemain dan pelatih, biaya lainnya tidak terlalu besar. Sampai sejauh ini, kami masih sanggup menutupi biaya klub sepak bola yang kami kelola," ujarnya.

Tak heran, Rudy bisa melakukan subsidi silang ke bisnis sepak bola dari beberapa lini bisnis lainnya yang tidak terlalu kena dampak dan masih memberikan keuntungan.

Baca juga: RANS Cilegon FC Dukung Kebijakan Pemerintah Terkait Penundaan Kompetisi Liga 2

Sejatinya, Rudy memutuskan untuk mengakuisisi klub sepak bola bukan hanya karena melihat prospek jangka pendek saja, melainkan prospek jangka panjang dan peluang bisnis lainnya yang gurih.

"Pertimbangan kami mengakuisisi klub sepak bola karena memang sepak bola adalah olahraga terpopuler se-Indonesia. Jangkauannya luas sekali dan sepak bola juga merupakan media komunikasi yang efektif selain media sosial tentunya. Belum lagi efek penggemar fanatik dan potensi menjadi penggemar Rans Cilegon FC ketika nanti kompetisi dijalankan," bebernya.

Hal lainnya, lanjut Rudy, di tengah pendemi pun kompetisi sepak bola sebenarnya bisa di jalankan. Dia mencontohkan perhelatan liga di Eropa masih bisa berjalan musim lalu meskipun tanpa penonton. Maka dari itu, saat ini Rudy mengungkapkan sedang  menunggu terobosan dari PSSI.

Dia berpesan, poin paling utama jika kompetisi dijalankan di tengah pandemi, tentu semua harus tertib menjalankan protokol kesehatan baik pihak penyelenggara maupun penonton.

"Di sisi penonton harus menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. Selama pendemi nonton saja dari rumah lewat televisi," tandasnya.

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved