Breaking News:

Virus Corona

2 Obat Rekomendasi WHO untuk Pasien Covid-19: Mampu Kurangi Risiko Kematian Akibat Infeksi Virus

WHO, Organisasi Kesehatan Dunia, merekomendasikan obat untuk pasien terinfeksi Covid-19. Terdapat dua obat yang direkomendasikan.

Editor: Glery Lazuardi
TRIBUNBANTEN/MILDANIATI
Ilustrasi pelayanan penjualan obat di toko obat di Kota Serang 

TRIBUNBANTEN.COM - WHO, Organisasi Kesehatan Dunia, merekomendasikan obat untuk pasien terinfeksi Covid-19.

Terdapat dua obat yang direkomendasikan, yaitu obat radang sendi Actemra dari Roche dan Kevzara dari Sanofi dengan kortikosteroid.

Baca juga: Awas! Polri Akan Jerat Pidana Bagi Penimbun Oksigen dan Penjual Obat Harga Mahal, Ini Hukumannya

Baca juga: Apotek Kimia Farma Kota Serang Jual Obat Oseltamivir, Ini Syarat dan Ketentuan Pembelian

Seperti dilansir dari Reuters, dua obat ini mampu mengurangi risiko kematian akibat terinfeksi Covid-19.

Data itu disampaikan WHO setelah mendapatkan informasi dari sekitar 11.000 pasien.

WHO mengevaluasi terapi dan menyimpulkan merawat pasien Covid-19 yang parah dan kritis dengan apa yang disebut antagonis interleukin-6 yang menghalangi peradangan mengurangi risiko kematian dan kebutuhan akan ventilasi mekanis.

Menurut analisis WHO, risiko kematian dalam 28 hari untuk pasien yang mendapatkan salah satu obat radang sendi dengan kortikosteroid seperti deksametason adalah 21%, dibandingkan dengan risiko 25% yang diasumsikan di antara mereka yang mendapat perawatan standar.

Menurut WHO, untuk setiap 100 pasien dengan kondisi seperti itu, empat akan bertahan.

Selain itu, risiko berkembang menjadi ventilasi mekanis atau kematian adalah 26% bagi mereka yang mendapatkan obat-obatan dan kortikosteroid, dibandingkan dengan 33% pada mereka yang mendapatkan perawatan standar. WHO mengatakan bahwa berarti untuk setiap 100 pasien seperti itu, tujuh lagi akan bertahan hidup tanpa ventilasi mekanis.

"Kami telah memperbarui panduan perawatan perawatan klinis kami untuk mencerminkan perkembangan terbaru ini," kata pejabat Darurat Kesehatan WHO Janet Diaz seperti dikutip Reuters.

Analisis ini mencakup 10.930 pasien, di antaranya 6.449 mendapat salah satu obat dan 4.481 mendapat perawatan standar atau plasebo. Penelitian tersebut dilakukan dengan King's College London, University of Bristol, University College London dan Guy's and St Thomas' NHS Foundation Trust dan diterbitkan pada hari Selasa di Journal of American Medical Association.

Baca juga: Benarkah Susu Beruang Bisa Dijadikan Obat Covid-19? Ini Penjelasan Lengkap dari Dokter dan Ahli Gizi

Baca juga: Mulai Selasa Ini Layanan Telemedicine Diluncurkan, Pasien Isolasi Mandiri Dapat Obat Gratis

Halaman
12
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved