Breaking News:

Pembunuh Nomor 1 di Indonesia, Kini Ada 'Senjata' untuk Hadapi Penyakit Ini, Sudah Disahkan BPOM

Penyakit kanker menjadi menjadi penyebab nomor satu kematian di negara-negara maju termasuk Indonesia menggeser penyakit jantung.

Editor: Glery Lazuardi
Istimewa via Tribun Pontianak
Ilustrasi kanker 

Disebut pebrulizomab, obat imunoterapi kanker anti PD-L1 ini dikhususkan bagi penderita kanker stadium lanjut yang telah mendapatkan pengobatan kemoterapi berbasis platinum.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan sub-spesialis dalam Hematologi, dr Andhika Rachman SpPD KHOM mengatakan Imunoterapi adalah pengobatan melawan kanker dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh seseorang untuk membunuh sel kanker.

Menurut dia, Imunoterapi memiliki tujuan sama dengan terapi target yang dikembangkan sebelumnya.

"Hanya perbedaannya selain langsung menyasar sel kanker, imunoterapi juga membuat sel kekebalan tubuh penderita lebih aktif melawan kanker," kata dia, dalam keterangannya, pada Selasa (13/7/2021).

Dia menjelaskan, Imunoterapi mampu menghambat waktu kekambuhan penderita kanker menjadi lebih lama.

"Memiliki efektifitas cukup baik dan bagus. Efek samping tidak berat kemoterapi. Efek samping juga ringan dan pasien bisa beraktivitas dengan baik," ujarnya.

Imunoterapi bekerja dimana Pasukan Sel-T akan bekerja memberi perlawanan akan sel kanker.

"Ada mekanisme sel kanker tidak dikenali sel imunitas dan bikin kanker bertambh. Tapi tambah obat imunitas perbaiki sistem imun dan buat efektif sel T," ungkapnya.

Baca juga: 6 Manfaat Kopi untuk Kesehatan, Lawan Kanker hingga Meningkatkan Performa Bercinta

Baca juga: Gary Iskak Sakit Kanker Hati, Richa Novisha Minta Doakan Hingga Ungkap Kondisi Terbaru Suaminya

Dia mengungkapkan imunoterapi merupakan jawaban bagi pengobatan kanker dengan keampuhan maksimal tetapi memiliki efek samping minimal.

Diberikan sebagai kombinasi akhir untuk perawatan kanker dan menjadi harapan hidup pasien kanker untuk hidup lebih panjang.

"Saat ini ia sudah menggunakannya selain untuk pasien kanker kepala dan leher juga untuk kanker payudara, kanker pankreas, dan kanker empedu," kata dia.

Selama tiga tahun terakhir ini respon dan animo masyarakat cukup baik. Ini terutama bagi mereka yang menginginkan terapi kanker lebih nyaman dan tidak berat seperti dahulu.
Imunoterapi, kata dia, sudah bisa gunakan dan tidak menyebabkan perburukan atau drop pasien, paparnya.

Terlebih karena kematian akibat kanker di Indonesia juga tinggi tinggi.

Data Globocan 2020 menyebut ada 396.914 kasus baru dengan kematian mencapai 234.511 orang. Serta prevalensi kasus dalam 5 tahun adalah 946.088 kasus.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved