Breaking News:

Penjelasan Kadinkes Lebak soal Kondisi Anak di Desa Muncang Kopong yang Alami Gangguan Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak Triyatno Supiyono, mengatakan gangguan kesehatan yang dialami Uniyah (8) karena komplikasi penyakit kista

TribunBanten.com/Marteen Ronaldo Pakpahan
Uniyah (8) warga Kampung Lame Payung RT 002/001, Desa Muncang Kopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten tampak begitu kesakitan me Uniyah (8) warga Kampung Lame Payung RT 002/001, Desa Muncang Kopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten tampak begitu kesakitan menahan rasa sakit yang telah ia derita selama kurang lebih 4 tahun lamanya.nahan rasa sakit yang telah ia derita selama kurang lebih 4 tahun lamanya. 

Dia menambahkan angka stunting di Lebak pada tahun 2018 mencapai 40 persen, di mana itu merupakan lonjakan tetinggi.

Baca juga: Akhirnya Muhammad Afdil Bocah Gizi Buruk dengan Berat 5 Kg Itu Dirawat di RSUD Cilegon

Baca juga: Capaian Kabupaten Tangerang dalam Upaya Percepatan Penurunan Gizi Buruk

Sebelumnya, TribunBanten.com berkesempatan untuk melihat dari dekat kehidupan anak gizi buruk di Lebak.

Pada Senin (9/8/2021) kemarin, TribunBanten.com mendatangi rumah Uniyah (8) di Kampung Lame Payung RT 002/001, Desa Muncang Kopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten.

Uniyah diketahui sudah selama empat tahun mengalami gizi buruk.

Berdasarkan pemantauan TribunBanten.com, rumah kedua orang tua Uniyah terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Selain itu, atap rumah mulai reyot.

Di rumah itu, Uniyah tinggal bersama orang dua dan tiga orang saudara lainnya. Uniyah merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.

Selain mengalami gizi buruk, Uniyah juga mempunyai gangguan fungsi paru-paru, hati, dan jantung.

Pihak keluarga telah membawa Uniyah untuk
melakukan pengobatan di berbagai rumah sakit. Namun, sampai saat ini belum ada perubahan.

Zubaidah (45), ibu kandung Uniyah, bersama dengan suaminya mencari nafkah dengan cara menjadi petani.

Dia bersama dengan suaminya sudah selama 18 tahun tinggal di rumah itu. Selama itu, kata dia, tidak ada pikiran untuk memperbaiki kondisi rumah.

"Untuk makan saja udah susah, belum lagi buat berobat anak saya, udah tidak mungkin untuk perbaikan rumah lagi," kata dia, saat ditemui di kediamannya, pada Senin (9/8/2021).

Rumah keluarga Uniyah jauh dari pemukiman penduduk. Akses untuk menuju ke sana harus
dilalui dengan cara berjalan kaki dan tak dapat dilalui kendaraan roda dua ataupun empat.

"Sudah lama saya tinggal di sini bersama dengan suami saya. Kami tinggal bersama empat orang anak, ya dimuat-muatin saja yang penting dapat tidur," jelasnya

Baca juga: Angka Toleransi Stunting dan Gizi Buruk Indonesia di atas Zona Toleransi, Bagaimana Solusinya?

Baca juga: Rekor Tertinggi, Kasus Gizi Buruk di Banten Tembus 1.770 Orang Bersamaan Pandemi Covid-19

Sampai saat ini, dia mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pihak pemerintah untuk perbaikan rumah.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved