Breaking News:

Melongok Tugu Pertempuran Cijentul dan Kisah di Balik Penggunaan Peluru Emas

Menurut pelaku sejarah bernama Dul Jamil (94), bentuk peluru dalam tugu yaitu peluru asli.

Penulis: mildaniati | Editor: Abdul Qodir
TribunBanten.com/Mildaniati
Tugu Pertempuran Cijentul di Cijentul, Desa Cilowong, Taktakan Serang, tepatnya di tikungan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cilowong, Senin (16/8/2021). 

Laporan wartawan TribunBanten.com, Mildaniati

TRIBUNBANTEN, KOTA SERANG - Tugu pertempuran rakyat Cijentul masih berdiri kokoh di Cijentul, Desa Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, tepatnya di tikungan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cilowong, Senin (16/8/2021).

Tugu Pertempuran Cijentul berbentuk seperti peluru warna keemasan serta dilengkapi tumpuan berbentuk persegi empat.

Untuk menuju tugu itu diharuskan melalui sembilan anak tangga.

Di tugu itu tertulis "Di sinilah rakyat bersama-sama dengan pasukan macan loreng dari TNI-A, pertempuran penghadangan gerakan pasukan tentara kerajaan Belanda pada 28 Desember 1948."

Tugu pertempuran Cijentul dibangun sebagai simbol untuk mengenang perjuangan masyarakat Serang, dan pasukan Macan Loreng TNI Angkatan Darat ketika melawan penjajah pada 28 Desember 1948.

Baca juga: Duka Penjaga Makam Pahlawan Ciceri, Gaji Sering Telat dan Alat Potong Rumput Rusak

Pertempuran itu dikenal dengan  pertempuran Cijentul, lokasi pertempurannya di tengah hutan di dekat tugu berdiri.

Tugu tersebut dibangun atas gagasan Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) pada 20 Mei tahun 1976.

Dibuat untuk memperingati pertempuran Cijentul pada 1945-1952.

Sampai saat ini masih terdapat daerah bernama Desa Simin, Jangan dan Cibetung bagian dari desa tertua yang masih ada di sekitar tugu itu.

Baca juga: Testimoni Penjaga Bendungan Lama Pamarayan, Kerap Dengar Suara Tawa Hingga Lihat Sosok Noni Belanda

Tugu dibuat utuk mengenang para pahlawan yang gugur dalam pertempuran.

Perlu diketahui pada 1948 Belanda mulai memasuki Serang dengan Agresi Militer II, saat itu mulai menginvasi ke daerah Serang dan Pandeglang.

Pelaku sejarah Pertempuran Cijentul, Dul Jamil (94), saat ditemui TribunBanten di Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Senin (16/8/2021).
Pelaku sejarah Pertempuran Cijentul, Dul Jamil (94), saat ditemui TribunBanten di Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Senin (16/8/2021). (TribunBanten.com/Mildaniati)

Menurut pelaku sejarah bernama Dul Jamil (94), bentuk peluru dalam tugu yaitu peluru asli.

Peluru itu diperoleh dari rampasan senjata Jepang.

Dul menceritakan, saat melemparkan peluru itu ke pasukan rombongan Belanda pelurunya tidak berfungsi saat dilemparkan. 

Baca juga: Maknai HUT Ke-76 RI, Ketua DPRD Kota Serang Sekuat Tenaga Melawan Penyebaran Covid-19

Alhasil peluru tersebut diabadikan dalam bentuk tugu.

"Dulu pas saya lempar itu peluru enggak fungsi, macet. Alhasil dijadikan sebagai tanda bukti saja," terangnya pada TribunBanten.com saat ditemui di rumahnya di Sayar. 

Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved