Breaking News:

Gunakan Pewarna Alami, Batik Buatan Warga Binuang Serang Raup Omzet Puluhan Juta Rupiah

Yah, pewarna untuk kain batik produksinya menggunakan bahan alami yang didapat dari lingkungan sekitar. Di antaranya dari kunyit, kulit kedondong,

Penulis: desi purnamasari | Editor: Abdul Qodir
TribunBanten.com/Desi Purnamasari
Pekerja membuat batik dengan pewarna ali di tempat usaha milik Ahmad Amirudin (28), di Kampung Cibiuk Langgar, Desa Sukamampir, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Sabtu (28/8/2021). 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari

TRIBUNBANTEN.COM, KABUPATEN SERANG - Ahmad Amirudin, warga Kampung Cibiuk Langgar, Desa Sukamampir, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, memanfaatkan bahan alami untuk membuat batik produksinya.

Bersama dengan lima saudaranya, pria berusia 28 tahun tersebut menjalankan usaha batik ini di Binuang sejak 2012.

Ada yang sedikit berbeda dengan batik buatan Amirudin.

Yah, pewarna untuk kain batik produksinya menggunakan bahan alami yang didapat dari lingkungan sekitar.

Di antaranya dari kunyit, kulit kedondong, daun mangga, manggis dan lainnya.

"Karena jarang juga ada yang memanfaatkan bahan alam seperti ini, jadi saya bersama sodara lainnya mecoba hal baru ini," katanya saat ditemui di rumahnya, Sabtu (28/8/2021).

Baca juga: Melongok Sanggar Batik Krakatoa, Batik Khas Cilegon Milik Istri Helldy Agustian

Ia pun mengatakan kain batik buatannya dipasarkan mulai Kabupaten Serang, Jakarta hingga Palembang.

Produk kain batik buatan Ahmad Amirudin (28) di Kampung Cibiuk Langgar, Desa Sukamampir, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Sabtu (28/8/2021). Batik buatannya memanfaatkan pewarna alami. 
Produk kain batik buatan Ahmad Amirudin (28) di Kampung Cibiuk Langgar, Desa Sukamampir, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Sabtu (28/8/2021). Batik buatannya memanfaatkan pewarna alami.  (TribunBanten.com/Desi Purnamasari)

Dalam sehari ia mengaku mampu membuat bahan batik 100 sampai 200 buah, dengan panjang 3 meter.

Namun sejak pandemi covid-19 pesanannya menurun. Dalam seminggu, ia hanya mampu mengirim 10 karung bahan batik. Alhasil, omzetnya pun turun drastis hingga 90 persen.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved