Breaking News:

Pengamat Kebijakan Soroti Industri Baja Nasional, Relawan Jokowi: Kalau Enggak Paham Jangan Ngomong

Sekjen Kornas-Jokowi Akhrom Saleh, menilai pengamat kebijakan publik Fernando Emas telah keliru menyoroti PT Krakatau Steel (KS), Cilegon.

Editor: Glery Lazuardi
KONTAN/Fransiskus Simbolon
ILUSTRASI. Pekerja menyelesaikan proses hot rolling mill di pabrik baja PT Krakatau Steel Tbk, Cilegon, Banten. 

TRIBUNBANTEN.COM - Sekjen Kornas-Jokowi Akhrom Saleh, menilai pengamat kebijakan publik Fernando Emas telah keliru menyoroti PT Krakatau Steel (KS), Cilegon.

Sebelumnya, Fernando sempat menilai KS tak mampu menyediakan bahan baku (baja) di dalam negeri dan hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

“Saya kira itu keliru, Krakatau Steel bukannya jadi penonton atau tidak mampu menyediakan bahan baku kebutuhan industri baja nasional," kata dia, dalam keterangannya, pada Senin (20/9/2021).

Baca juga: Insiden Bucket Cor Beton Terjatuh di Pelabuhan Merak, ASDP: 3 Pekerja Dilarikan ke RS Krakatau Steel

Baca juga: Krakatau International Port Targetkan 5000 Kunjungan Kapal pada 2026

Menurut dia, untuk memberikan keterangan soal suatu hal harus melihat secara jernih dan lebih mendasar.

Misalnya, kata dia, adanya impor baja dari negeri Tiongkok (China) yang terbebas dari tarif bea masuk anti dumping.

"Ini saya kira perlu diteliti lebih mendalam oleh Fernando sebagai pengamat kebijakan publik, sehingga dia enggak keliru menuding orang,” kata dia.

Dia mengungkapkan Direktur Utama KS Silmy Karim, Chairman Asosiasi Industri Besi/Baja (IISIA) justru menolak dan melakukan protes serta mengajukan proteksi terhadap baja impor.

Dia menjelaskan, perihal import baja atau bahan baku lainnya bukan ranah Dirut BUMN (KS) seperti yang ditudingkan Fernando Emas, kebijakan impor itu ranah kementrian perdagangan.

"Sebaiknya menjadikan aja sekalian Silmy Karim sebagai menteri supaya bisa memproteksi impor yang merugikan produksi nasional,” ujarnya.

Seharusnya dia pelajari lebih komprehensif lagi persoalan itu, supaya lebih jelas apa penyebabnya, jadi enggak sembarangan menilai orang, dan tuduhan ini justru terkesan tendensius dan tidak ilmiah serta tidak paham tentang industri baja nasional.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved