Breaking News:

Sosok Jaka Ramadhan Anak Buah Ali Kalora Asal Pandeglang, Anak Semata Wayang dan Dikenal Pendiam

Jaka Ramadhan sendiri merupakan warga Kampung Gunung Cangrih, Desa Cikagan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Banten

kolase kompas tv/wikipedia
Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora 

Laporan wartawan TribunBanten.com, Marteen Ronaldo Pakpahan

TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Pemimpin kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora tewas bersama anak buahnya, Jaka Ramadhan saat baku tembak dengan anggota Satgas Madago Raya Polda Sulawesi Tengah pada Sabtu (18/9/2021).

Mereka tewas saat kontak senjata di Desa Antina Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Sabtu (18/9/2021) pukul 18.15 WITA.

Jaka Ramadhan sendiri merupakan warga Kampung Gunung Cangrih, Desa Cikagan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Banten

Berdasarkan informasi yang diperoleh oleh TribunBanten.com, sosok Jaka Ramadhan sendiri dinilai sangat baik dan juga pendiam.

Ketua RT setempat, Nana Tisna saat dihubungi, membenarkan kematian salah satu warganya yang tewas dalam operasi pemberantasan kelompok MIT beberapa hari lalu.

"Iya benar itu dia (Jaka Ramadhan-red) merupakan warga kita. Lahir dan besar di sini bersama dengan ibu dan neneknya," katanya saat dihubungi, Senin (20/9/2021).

Jaka Ramadhan sendiri merupakan anak satu-satunya. Ia tumbuh dan berkembang di bawah pengasuhan sang ibu dan nenek yang tinggal di daerah Pandeglang.

Usai selesai menyelesaikan sekolah menengah pertama (SMP) pada tahun 2011, ia kemudian melanjutkan sekolah menengah atas (SMA) sampai tahun 2014 dinyatakan lulus.

Baca juga: Kronologi Ali Kalora Tewas Tertembak, Ini Sosok Kasatgas Operasi Madago Raya yang Buru Kelompok MIT

Setelah itulah, pihaknya mengatakan bahwa Jaka sudah tidak pernah terlihat kembali di rumahnya.

"Sosoknya sangat tertutup tidak seperti dengan temannya, selalu menyendiri dan tidak mau bergaul," terangnya.

Bahkan, sewaktu masih duduk di bangku sekolah, ia tampak tidak bergaul dengan temannya dan lebih memilih ke kebun untuk membantu orangtuanya.

Tak hanya itu, dirinya juga menerangkan bahwa pelaku jarang mengikuti kegiatan keagamaan.

"Sudah sejak tahun 2014 tidak menetap lagi di Pandeglang. Katanya saya denger-denger mondok pesantren di Malimping. Tau-tau nya sudah di Poso ikut latihan perang," jelasnya.

Ia pun mengaku sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada Jaka Ramadhan dengan jalur yang telah diambil.

Pihaknya mengatakan jasad Jaka Ramadhan saat ini sudah dimakamkan di Poso dan tidak di bawa pulang ke Pandeglang.

Alasannya karena permintaan dari orangtua yang bersangkutan.

Kalau kami tidak menolak, hanya saja orangtuanya yang menolak. Katanya mah takut merepotkan saja," tegasnya.

 

BalasTeruskan

Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved