Breaking News:

Polres Serang Ungkap "Home Industri" Tembakau Gorila, Pelaku Belajar Produksi dari Youtube

Aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Serang mengungkap rumah produksi tembakau sintesis atau gorila dan likuid rokok elektronik (vape) di Desa Singame

Penulis: desi purnamasari | Editor: Glery Lazuardi
TRIBUNBANTEN/DESI
Satuan Reserse Narkoba Polres Serang mengungkap kasus peredaran narkotika lintas provinsi. 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari

TRIBUNBANTEN.COM, KABUPATEN SERANG - Aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Serang mengungkap rumah produksi tembakau sintesis atau gorila dan likuid rokok elektronik (vape) di Desa Singamerta, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang.

Di sesi jumpa pers pada Jumat (24/9/2021) ini, Kapolres Serang AKBP Yudha Satria menjejerkan sejumlah alat-alat temuan untuk memproduksi tembakau gorila dan likuid.

Di antaranya 2 bungkus tembakau seberat 2 kg, 30 pics tapareware, mesin magnetic, alkolohol 90 persen, 4 buah suntikan, 14 gelas kimia, dan satu unit timbangan.

"Alat-alat tersebut merupakan alat untuk memproduksi ganja dijadikan menjadu likuid," ucapnya pada saat konferensi pers di Mapolres Serang, Jumat (24/9/2021).

Ia mengatakan, tersangka DM (43) menjual ke berbagai daerah secara daring lintas provinsi ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, Makassar, dan Riau.

"Informasi dari tersangka bahwa beliau belajar membuat vape tersebut dari tutorial youtube," katanya.

Dan untuk cara peredaraannya dilakukan dengan sistem online mengecek dari akun sosmed dan melalui nomor medsos.

Sedangkan untuk pengiriman barang dilakukan melalui jasa pengiriman paket.

"Agar tidak mudah ketahuan petugas penjualan temabaku gorila tersebut dilakukan melalui medsos dengan nama samaran serta pengiriman dilakukan dengan mengunnakan jasa pengiriman," jelasnya.

"Ia menjalankan bisnis ini seorang diri dan sudah berjalan selama satu bulan," katanya.

Atas perbuatannya itu, para tersangka dijerat Pasal 111 tentang narkotika dan hukuman penjara paling singkat 4 tahun paling lama 12 tahun dengan denda Rp 800 juta dan paling besar Rp 8 miliar.

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved