Breaking News:

Berdiri Sejak 1990, Sanggar Seni Karawitan Purbasari Jadi Daya Tarik Wisata Budaya di Kota Serang

Sanggar Seni Karawitan Purbasari yang digagas oleh Saudi Sasmita atau dikenal dengan panggilan Udi (73) sudah ada sejak tahun 1990

Penulis: mildaniati | Editor: Yudhi Maulana A
TribunBanten.com/Mildaniati
Sanggar Seni Karawitan Purbasari di Kecamatan Curug, Kota Serang 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Mildaniati

TRIBUNBANTEN, KOTA SERANG - Sanggar Seni Karawitan Purbasari yang digagas oleh Saudi Sasmita atau dikenal dengan panggilan Udi (73) sudah ada sejak tahun 1990.

Udi selaku pendiri masih aktif mengajarkan muridnya.

Sampai saat ini sudah 31 tahun sanggar itu tetap bertahan.

Lokasinya di RT 01/01 Kampung Prapatan, Kelurahan Curug, Kecamatan Curug, Kota Serang.

Udi bercerita, sebelum mendirikan sanggar, dirinya bekerja sebagai kepala sekolah tahun 1986 di SDN Curug.

Lalu, tahun 1990 dia membangun sanggar seni dan merekrut siswi sekolah dasar (SD) serta warga sekitar.

"Tahun 1990 rekrut anak SD dan sekitarnya, awalnya keluarga dulu," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (26/9/2021).

Baca juga: Ramalan Zodiak Kesehatan Besok Senin 27 September 2021, Kesehatan Ibu Libra Menurun, Scorpio Sehat

Dengan sabar dia mengajarkan secara perlahan murid-muridnya dari SDN Cipete, Curug, Petir dan lainnya setiap hari libur.

"Lama-lama banyak yang gabung minta diajarin," ucapnya.

Karawitan memiliki arti yaitu seni gamelan dan seni suara yang bertangga nada slendro dan pelog.

Menurut Udi, pemilihan nama Purbasari terinspirasi dari tokoh dalam cerita rakyat.

Purbasari dikenal sebagai sosok baik hati dan membawa aura positif dibandingkan Purbararang.

"Kalo Purbararang kan sosok jahat, kalo Purbasari dikenal baik hati," terangnya.

Di sanggar itu, Udi mengajar puluhan muridnya.

Dia mengaku belajar semua alat musik tradisional secara otodidak sejak SD.

Baca juga: Putut Sudah Tahu Kekuatan Lawan, Ini Strategi Pelatih Perserang saat Melawan PSKC Cimahi Senin Nanti

Ada gamelan, suling, degung, kendang, kecapi, selendro dan belajar nyinden atau kidung sunda.

Lagu yang biasa dibawakan beragam dari mulai versi Jawa dan Sunda, tiga di antaranya yaitu Sabilulungan, kalangkak, pileuleuyan dan lainnya.

"yang utama degung, musik daerah tangga nadanya Da mi na ti la," terangnya.

Udi juga mahir membuat ukiran kayu untuk memperbarui alat musiknya. 

Alat musik tradisonal yang dimiliki Udi  lebih dari 20 buah. 

Dia juga menceritakan dulu alat musik yang dimilikinya pernah dicuri oleh pemulung, dan hanya disisakan gong saja ditinggal di tepi sawah. 

"Cuman gong doang yang nyisa dulu dicuri, karna berat kali mangkannya ditinggal di tengah sawah," ungkap Udi. 

Di sanggar seni karawitan Purbasari, ada pula sanggar tari Nirmala, sudah ada sejak 2011 pimpinan Irma Cahya Ningsih.

Irma Cahya Ningsih adalah anak kandung Udi.

Di sanggar tari itu dipelajari tari mapag pengantin, dan lainnya yang umumnya sering digunakan saat menyambut tamu dan lainnya.

Terdapat 50 murid yang belajar menari.

"dari kampus juga ada yang belajar dari UPI, Stain datang 5 pertemuan, STIE Bina Bangsa, IAIB, Petir, Baros dan.lainnya," katanya.

Selain Irma, anaknya bernama Wini Daniatul Afiah pun aktif sebagai ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Curug.

Sanggar yang didirikan Udi menjadi salah satu wisata sanggar seni budaya di antara 4 wisata lainnya di Curug.

Wisata seni terdiri dari pertunjukan seni tradisional dan karawitan serta mengajak semua lintas usia untuk belajar seni musik tradisional.

Wisata budaya ini, menjadi keunggulan pokdarwis di Curug.

Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved