Warga Tegal Maja Serang Sulap Bambu Menjadi Kerajinan Cantik, Sampai Dikirim ke Dubai

Jaumenah merupakan salah satu aggota kelompok ayaman bambu yang diberdaya oleh Badan usaha milik desa (Bumdes).

Tayang:
Penulis: desi purnamasari | Editor: Yudhi Maulana A

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Jumenah (53) bersama 12 warga lainnya begitu semangat dan antusia saat membuat kerajinan dari bambu di lingkungan, Kampung Tegal Maja, Desa Tegal Maja, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang.

Wilayah ini berada di pinggiran pusat tanaman milik salah satu pabrik yang berada di Kabupaten Serang, yang mana limbahnya pun turut dijadikan kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

Akses menuju ke sana, warga melalui jalan yang kondisinya sedikit berbatu dan paving block yang sebagian sudah copot.

Saat ditemui TribunBanten.com, tangan kiri Jumenah tampak sibuk memegang bilah bambu yang sudah dipotong tipis.

Sementara tangan kanannya memegang pisau kecil untuk meraut bilah bambu yang dipegangya.

Rautan bambu yang sudah halus itu dianyam membentuk pola dengan motif yang sudah ditentukan.

Hasilnya nanti akan beragam, mulai dari tas dengan ukuran berbeda, bakul, bahkan tempat tisu dan liannya.

Baca juga: Kisah Abah Rombeng, Puluhan Tahun Nabung dari Hasil Jualan Kerajinan Anyaman Akhirnya Bisa Naik Haji

Jaumenah merupakan salah satu aggota kelompok ayaman bambu yang diberdaya oleh Badan usaha milik desa (Bumdes).

Prempuan berkerudung tersebut mengaku sudah puluhan tahun belajar dari orang tuanya menganyam bambu.

Warga Tegal Maja , kata dia, sudah sejak turun-temurun memanfaatkan bambu untuk anyaman.

Sebagian besar produk yang dihasilkan warga setempat merupakan besek yaitu wadah atau tempat serbaguna berbahan anyaman bambu.

hasil kerajinan dari bambu karya warga di lingkungan, Kampung Tegal Maja, Desa Tegal Maja, Kecamatan Keragilan, Kabupaten Serang.
hasil kerajinan dari bambu karya warga di lingkungan, Kampung Tegal Maja, Desa Tegal Maja, Kecamatan Keragilan, Kabupaten Serang. (TribunBanten.com/Desi Purnamasari)

"Biasanya buat besek, baku, sair selain itu juga saya buat tas dari bambu juga," katanya saat di lokasi, Kamis (30/9/2021).

Namun, produk seperti pincuk dan tas hanya dikerjakan jika ada pesanan.

Sementara yang selalu dikerjakan adalah besek dan bakul karena sudah ada pengepulnya.

Baca juga: Rutan Kelas IIB Serang Gelar Bazar, Jual Hasil Berkebun dan Kerajinan Tangan Warga Binaan

Harga yang dikenakan mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 50.000 perbiji tergantung ukurannya.

Meski demikian, membuat anyaman bambu bukan mata pencarian utama warga di Tegal Maja.

Sehari-hari mereka juga ada sebagai petani bahkan pekerja pabrik.

Kepala Desa Tegal Maja, Muhamad Iksan mengatakan bahwa para warga memang dari dulu sudah mengayam bambu.

Namun, kata dia, semakin kesini pengayam bambu semakin berkurang di lingkungannya dan untuk melestarikan tersebut maka pihaknya mengadakan pelatihan dan berkerjasama dengan Bambu Nusantara selama 20 hari.

"Yang hampir diikut oleh seluruh warga disini sebelum adanya pandemi covid-19 dan ini sudah berjalan cukup lama," katanya saat ditemui di Kantornya.

Dahulu, kata dia kearifan lokal hampir punah karena rata-rata muda mudi ini ingin lari keindustri saja.

"Maka untuk saat ini sudah kita buatkan Bumdes dan kelompoknyanpun sudah ada sebanyak 12 orang," katanya.

Ia pun menuturkan bahwa kedepannya akan mengumpulkan anak muda yang ingin mengasah kreativitas dan berinovasi untuk pelatihan bambu laminasi di Tasik agar nanti dapat pula dikembangkan disini.

"Tahun depan rencana kita anggarkan dari desa, agar kedepannya anak muda pun turut serta karena merekalah penerusnya nanti," ujarnya.

Untuk penjualan sudah dikirim sampai ke Bekasi, cikarang dan Hotel hawai untuk soveneri.

bahakan, kata dia, pihaknya baru saja mengirimkan sampel ke Dubai yang bekerjasama dengan pihak PT Indah Kiat.

"Baru sampel kita kirim ke Dubai difasilitasi Indah Kita pusat di Jakarta mudah-mudahan dapat lolos dapat ekspor nantinya," ujarnya.

Selain itu, ia pun sudah menaman 1.000 batang pohon bambu guna ayaman kedepannya, karena saat ini untuk bambu pihaknya masih harus mengirim atau ambil dari orang lain.

"Selain untuk ayama segi habitati bambu satu untuk filter alam dan dijadikan bahan baku untuk ayaman ekosistem bambu kita ciptakan untuk kedepannya agar tidak bingung ambil bambu kemana," katanya.

Dari masyarakatar yang ada kurang lebih ada 700 warga dari 3000 warga hampir semua bisa mengayam bambu.

"Dan insyallah kedepannya akan kita bentuk home industri masyarakat disini, agar perekonomian warga pun meningkat serta kearifan lokal tidak punah," katanya.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved