Setelah Awan "Tsunami", Kini Benda Bercahaya Merah Terangi Langit Buat Heboh Warga Aceh
Diketahui lokasi kejadian berada di Simpang Lancang, Pintu Rie Gayo, Bener Meriah, Aceh, pada Kamis (14/10/2021) silam.
TRIBUNBANTEN.COM - Beredar video cahaya berwarna merah di langit Aceh.
Diketahui lokasi kejadian berada di Simpang Lancang, Pintu Rie Gayo, Bener Meriah, Aceh, pada Kamis (14/10/2021) silam.
Peneliti di Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang menjelaskan fenomena itu.
Menurut dia, terdapat kemungkinan besar benda merah menyala di langit Aceh itu merupakan bola api meteor atau fireball.
"Bola kemerahan ini tampak meledak di udara. Namun, tak disertai dentuman. Bisa jadi bola kemerahan ini adalah fireball atau bola api meteor," jelas Andi, Minggu (17/10/2021).
Baca juga: Viral Video Benda Bercahaya Warna Merah Jatuh dari Langit di Aceh, BRIN: Diduga Itu Fireball
Baca juga: Viral Video Hoaks Pesawat Jatuh & Terbakar di Bandara Adi Soemarmo Solo, Polisi Buru Penyebarnya
Dia menjelaskan, warna merah bisa muncul akibat dari meteor melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Reaksi kimiawi akhirnya muncul.
Reaksi tersebut muncul akibat inti meteor dengan molekul gas nitrogen dan oksigen di sekitarnya pada atmosfer Bumi.
Ditandai pijar berwarna merah, meteor tampak seperti bola merah yang ditampilkan video viral di media sosial tersebut.
Bahkan bola api yang melintas itu disebut lebih terang ketimbang planet Venus.
Selain itu kemunculan meteor tersebut kemungkinan merupakan fenomena dari hujan meteor Orionid sejak 2 Oktober hingga 7 November mendatang.
"Anda kemungkinan berasal dari meteor sporadis, meteor yang muncul tidak dari konstelasi tertentu ataupun waktu-waktu tertenu," pungkasnya.
Sebelumnya, warga Nagan Raya dan Meulaboh, Aceh digegerkan kemunculan awan raksasa mirip gelombang tsunami.
Awan raksasa mirip gelombang tsunami itu muncul, pada Sabtu (12/6/2021) sekira pukul 07.00 WIB.
Awan yang kemudian disebut arcus, kembali hilang setelah angin kencang dan diguyur hujan lebat.
Hingga Sabtu sore, tidak ada laporan dampak dari awan tersebut.
Namun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Nagan Raya mengimbau, warga dua kabupaten meningkatkan kewaspadaan.
Informasi diperoleh Serambinews.com (Group TribunBanten.com), Sabtu menjelaskan, fenomena alam awan arcus terjadi sekira pukul 07.00 WIB hingga pukul 07.30 WIB.
Awan raksasa banyak disaksikan warga yang cukup besar di kawasan Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir hingga Langkak.
Awan arcus juga kelihatan di kawasan Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat yang berbatasan dengan Nagan Raya.
Beberapa warga Suak Puntong, juga sempat merekam fenomena alam tersebut.
Sedang di Meulaboh, dari informasi warga juga melihat awan raksasa itu.
Hanya saja, lebih kecil dari yang pernah muncul beberapa waktu lalu.
Namun sekitar setengah jam kemudian, angin kencang melanda serta diguyur hujan deras.
Sehingga awan kembali hilang.
Beberapa warga dan pengendara di Nagan Raya menyatakan, takjub melihat fenomena alam tersebut.
Namun warga was-was, terhadap awan yang mirip gelombang tsunami.
"Ada sejumlah warga merekam. Sangat kelihatan," jelas Feri, seorang warga yang merekam di kawasan Suak Puntong.
Dikatakan, beberapa waktu kemudian angin kencang tiba dan hujan sehingga awan yang raksasa kembali hilang.
Baca juga: Anaknya Viral usai Curi Kotak Amal untuk Bayar Berenang, Sang Ayah Minta Maaf & Ganti Lebih Kerugian
Baca juga: Viral Wanita Cegat Suami di Pinggir Jalan Tol Demi Berikan Ini, Sebut Sudah 3 Bulan Tak Bertemu
Sementara itu, prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Nagan Raya, Rezky P Hartiwi dikonfirmasi Serambinews.com, Sabtu (12/6/2021) terkait fenomena alam awan arcus yang kembali terjadi di langit Nagan Raya dan Aceh Barat mengakui hal itu.
Bahkan, awan tersebut juga kelihatan dari Kantor BMKG Nagan Raya di Kubang Gajah, Kecamatan Kuala Pesisir.
Menurut Rezky, fenomena awan arcus terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer di sepanjang pertemuan massa udara yang lebih dingin dengan massa udara yang lebih hangat.
Serta lembab, sehingga membentuk tipe awan yang memiliki pola pembentukan horizontal memanjang.
"Kondisi tersebut dapat terjadi, salah satunya karena adanya fenomena angin laut dalam skala yang luas mendorong massa udara ke arah daratan," kata Rezky.
Dikatakan, fenomena ini menimbulkan angin kencang dan hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir di aekitar pertumbuhan awan.
Keberadaan awan ini, kata Rezky, murni merupakan fenomena pembentukan awan yang terjadi akibat adanya kondisi dinamika atmosfer.
"Jadi tidak ada kaitannya dengan potensi gempa atau tsunami dan hal-hal mistis lainnya," katanya.
BMKG menyatakan, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi kondisi cuaca buruk dan dapat selalu meng-update informasi cuaca dari BMKG.
Diakui, fenomena alam awan arcus juga pernah terjadi pada Agustus 2020 silam.
Sebagian langit Aceh Barat dan Nagan Raya diselimuti awan tersebut.
"Lalu angin dan hujan lebat sehingga kembali hilang awan arcus tersebut," katanya.
BMKG juga menyatakan, fenomena alam arcus yang terjadi di Nagan Raya tidak ada kaitan dengan gempa yang terpusat di Meulaboh dan dirasakan hingga Nagan Raya dengan skala 4,9 SR.
Gempa terjadi Sabtu (12/6/2021) dini hari sekira pukul 02.13 WIB.
Menurut BMKG, saat ini di wilayah barat selatan Aceh juga peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Sehingga potensi hujan kembali akan turun
Tulisan ini sudah tayang di kompas.tv berjudul Viral Video Benda Merah Terangi Langit Aceh, Ini Penjelasan Lapan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/tangkapan-layar-video-yang-memperlihatkan-adanya-benda-bercahaya-merah-jatuh-dari-langit-aceh.jpg)