Breaking News:

Kebijakan PCR Sebagai Syarat Naik Pesawat Ditentang Banyak Kalangan, Ini Alasannya

Aturan penumpang pesawat terbang harus menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) ditentang banyak kalangan.

TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA
Penumpang di Terminal 3 Kedatangan Domestik Bandara Soekarno-Hatta yang dilakukan swab antigen secara acak saat kembali dari mudik, Senin (17/5/2021). 

TRIBUNBANTEN.COM - Pemerintah telah mengeluarkan aturan baru soal syarat perjalanan dalam negeri.

Aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 21 Tahun 2021.

Dalam aturan itu, penumpang pesawat yang melakukan perjalanan, baik berasal maupun bertujuan ke daerah PPKM level 3 dan 4 wajib menunjukkan kartu vaksin (minimal dosis pertama).

Kemudian, penumpang juga harus melampirkan hasil tes PCR negatif yang diambil kurun waktu 2x24 jam.

Namun aturan penumpang pesawat terbang harus menjalani PCR sebelum melakukan perjalanan ini ditentang banyak kalangan.

Satu di antaranya oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang menyarankan kebijakan tes PCR untuk penumpang pesawat dibatalkan.

Baca juga: Mulai Minggu 24 Oktober Ini, Tes PCR Jadi Syarat Wajib Naik Pesawat

Ketua Umum YLKI Tulus Abadi menyebutkan, kebijakan PCR untuk penumpang pesawat ini sebaiknya dibatalkan atau direvisi.

"Revisi yang dimaksud misalnya, waktu pemberlakuan PCR menjadi 3x24 jam, mengingat di daerah-daerah tidak semua tes PCR cepat," ucap Tulus saat dihubungi Tribunnews, Sabtu (23/10/2021).

Atau, lanjut Tulus, syarat perjalanan dengan angkutan udara cukup antigen saja, tapi harus vaksin 2x.

Tulus juga menyebutkan, bahwa kebijakan PCR ini diskriminatif karena memberatkan dan menyulitkan konsumen.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved