Januari-November Terjadi 115 Kasus DBD di Kabupaten Serang, Dinkes Ingatkan Warga Disiplin 3M
Pengelola Program demam berdarah dengue (DBD) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang, Pipih Saripah, meminta warga waspada terhadap kasus DBD.
Penulis: desi purnamasari | Editor: Glery Lazuardi
Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Pengelola Program demam berdarah dengue (DBD) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang, Pipih Saripah, meminta warga waspada terhadap kasus DBD.
Meskipun tercatat penurunan kasus DBD di wilayah Kabupaten Serang pada 2020, namun perlu diwaspadai penyakit DBD saat memasuki musim hujan.
Sudah terjadi penurunan kasus dari tahun 2020 terdapat 308 kasus. Adapun korban meninggal dunia paling banyak di Kecamatan Ciomas sebanyak 8 orang.
Sejauh ini, dia mengungkapkan, DBD sudah mencapai 115 kasus yang untuk perawatan tersebar di 31 puskesmas di 29 kecamatan yang ada di Kabupaten Serang mulai dari Januari-November 2021 ini.
"Yang terbanyak di kecamatan ada di Pulau Ampel 13 kasus dan meninggal dunia 1 orang," ujarnya, saat ditemui di Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, pada Kamis (25/11/2021).
Baca juga: Tak Hanya Covid-19, Kota Tangerang Waspada Kasus DBD, Tercatat 24 Kasus Sejak Oktober 2021
Dia mengungkapkan, ada dua jenis nyamuk yang dapat menyebabkan DBD. Yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
"DBD adalah penyakit yang memang berbasis lingkungan," kata dia.
Untuk menanggulangi penyakit DBD, pihaknya sudah melakukan penanganan dengan cara
memberantas sarang nyamuk yakni 3M mengubur, menutup, dan menyiram.
"DBD ini penyakit berbasis lingkungan di masyarakat, maka harus dari lingkungan dulu," ujarnya.
Mengenai menurunnya angka kasus DBD, kata dia, ada kemungkinan terjadi penurunan karena setelah adanya Covid-19 ini banyak pasien yang tidak langsung datang ke rumah sakit.
"Lantaran kebanyakan dari mereka takut untuk datang ke rumah sakit. Maka dimungkinkan mereka tetap di rumah dan data tersebut tidak tercatat," katanya.
Dengan musim yang tidak menentu saat ini, menurutnya, jika dulu waktu musim penghujan DBD akan meningkat namun saat ini tiap bulan pasti ada DBD.
"Karena dilihat dari data perbulan kasus DBD pasti ada," katanya.
Ia pun mengatakan jika dilihat dari usia kebanyakan usia produktif, karena mereka rata-rata pergi keluar dan ada kemungkinan digigit nyamuknya didaerah lain.
Baca juga: Memasuki Musim Penghujan, Pemkot Tangerang Imbau Warga Waspadai DBD dan Malaria: Harus Jalani PHBS
"Yakni di usia 20-50 tahun anak-anak jarang hanya ada beberapa yakni di usia 4-11 tahun ada sekitar dua orang," ujarnya.
Ia pun menghimbau kepada masyarakat perlu ditingkatkan kebersihan lingkungannya
"Karena siapa lagi yg akan membersihkan lingkungan selain masyarakat itu sendiri," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/ilustrasi-digigit-nyamuk-penyebab-dbd.jpg)