Breaking News:

Ramadan 1443 H

Cerita Mantan Preman di Kabupaten Serang, Kini Jadi Ustadz, Sempat Dibenci Orang dan Masuk Lapas

Cerita Mantan Preman di Kabupaten Serang, Kini Jadi Ustadz, Sempat Dibenci Orang dan Masuk Lapas

Penulis: mildaniati | Editor: Ahmad Haris
Youtuber UAS
Ilustrasi: Ustadz Abdul Somad, salah seorang Da'i kondang di Indonesia. 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Mildaniati

TRIBUNBANTEN, KOTA SERANG - Kisah Sodikin (42), seorang mantan preman, dulu sempat dibenci banyak orang, lalu masuk penjara, tetapi kini berubah menjadi guru ngaji.

Ustadz Sodikin, tampak mengajar ngaji 15 santrinya di pondok sederhana yang terbuat dari bambu, yang berada di RT 02/03 Kampung Pontang, Pegandikan, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang.

"Majlis sederhana, ada 15 santri usia di bawah SMA," ujarnya pada TribunBanten.com, Selasa (12/4/2022).

Sodikin menuturkan, majlisnya dibangun menggunakan biaya pribadinya sejak dua tahun terakhir.

Saat ditemui di Jalan Tripjamaksari Kota Serang, Sodikin mengenakan pakaian serba hitam dilengkapi peci dengan rambut lurus panjang sebahu.

Baca juga: Ustadz Abdul Somad Terangkan Konsep Rezeki yang Sebenarnya: Agar Kita Makin Bersyukur

Dia menceritakan pengalaman hidupnya semasa muda dulu.

Masa mudanya dilalui di jalanan, dari mulai mengamen dan berkelahi.

Setiap orang tua yang lewat, dia sering usil, bahkan tidak segan tiba-tiba memukul dan nemarahi.

Wataknya yang tempramental, dan emosi yang tidak terkontrol, membuatnya dibenci oleh setiap orang.

Wataknya itu muncul akibat Sodikin kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.

Hal itu dikarenakan mendiang ayahnya wafat, saat dia duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD).

"Kurang mendapat kasih sayang orang tua, karena sejak SD kelas 3 ditinggal orang tua laki-laki, ibu sibuk kerja," tuturnya.

"Dulu paling dibenci," sambungnya.

Puncaknya, tahun 2000, Sodikin terlibat perkelahian dengan rekannya di luar kesadarannya.

"Engga sadar waktu itu mukulin orang, akhirnya dilaporin polisi," tuturnya.

Selama 3 minggu dia mendekam di lapas Polsek Walantaka.

Hari-hari di lapas ia lalui dengan rasa penyesalan dan kegelisahan.

Bahkan, almarhum ayahnya hampir setiap malam datang lewat mimpinya meminta untuk diziarahi.

"Tiap malem bapak datang lewat mimpi, terus saya konsul ke ustadz, ternyata tandanya minta diziarahi," terangnya.

Setelah melakukan ziarah kubur, kemudian Sodikin bermimpi kembali, saat itu dia berada di pondok pesantren.

"Saya konsul lagi ke ustad, ternyata ingin mondok," ucapnya.

Setelah keluar dari Lapas, Sodikin bertekad untuk pergi ke pondok pesantren.

Dia menimba ilmu di pondok pesantren Miftahul Jannah, yang dipimpin oleh KH Nurjen Ismail.

Lokasinya di Kampung Cipokok Kuning, Pekalongan, Jawa Tengah.

"Enggak minta biaya, saat itu saya ngamen buat modal ogkos ke sana," tuturnya.

Tanpa pamit pada teman, ibu, keluarga dan saudaranya, Sodikin menghilang selama 9 tahun tanpa kabar.

"Enggak ngabarin sama siapa pun, 9 tahun saya belajar di pesantren karena ingin bisa mengaji dan bisa berziarah kubur ke makam orang tua," terangnya.

Ibunya bahkan menyangka, jika Sodikin sudah meninggal dunia.

"Enggak ngabarin siapapun waktu itu, fokus belajar," tuturnya.

Saat di pondok, Sodikin sambil kuli di kebun untuk mendapat upah.

Upahnya dia gunakan untuk membeli kitab.

"Sambil ngeladang, ngerjain apa aja," ucapnya.

Setelah 9 tahun, Sodikin memutuskan untuk pulang.

Tiba di rumah, ibundanya sempat mau pingsan lantaran tidak percaya anaknya masih hidup.

"Saya tahan supaya ibu enggak pingsan, dan sempat bertanya kenapa enggak beri kabar," tuturnya.

Dari kisahnya, Sodikin mengaku setiap orang memiliki pengalaman baik dan buruk.

"Setiap orang punya pengalaman baik dan buruk," katanya.

Baca juga: Sosok Anton Medan, Mantan Preman yang Hijrah dan Jadi Pendakwah, Ini Kisahnya

"Biarkan itu jadi pengalaman, dan jangan sampai terulang kembali," sambungnya.

Dia berharap, hidupnya ke depan bisa lebih baik terutama untuk santri, agar santrinya betah dan bertambah.

Saat ini, pesantrennya butuh Al-Quran dan papan tulis untuk mengajar santri.

Selama Ramadan, kegiatan di pondoknya yaitu saat sore dilaksanakan buka puasa bersama di musolah atau di masjid.

Malam harinya diisi dengan tadarusan. 

Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved