Breaking News:

14 Perempuan Ini Terlibat Jaringan Teror, BNPT: Korban Kaum Pria

Sebanyak 14 perempuan tercatat menjadi pelaku tindak pidana terorisme. Salah satu perempuan yang terlibat kasus terorisme, yaitu Zakiah Aini

Editor: Glery Lazuardi
Istimewa
ZA, wanita pelaku penyerangan Mabes Polri Rabu (31/3/2021) membawa map kuning berisi amplop yang bertuliskan kalimat-kalimat tertentu 

TRIBUNBANTEN.COM - Sebanyak 14 perempuan tercatat menjadi pelaku tindak pidana terorisme.

Salah satu perempuan yang terlibat kasus terorisme, yaitu Zakiah Aini yang menyerang Mabes Polri pada 3 Maret 2021.

Sementara itu, kasus lainnya yang melibatkan seorang ibu dan dua anak dalam aksi teror di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro pada Mei 2018.

"Ada sejumlah perempuan yang terlibat dalam kasus terorisme. Dalam catatan kami kurang lebih ada sekitar 14," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Boy Rafli.

Baca juga: Heboh Vonis Munarman, Diputus 3 Tahun Penjara Terkait Kasus Terorisme, Sudah Adilkah?

Pihaknya menemukan beberapa kasus keterlibatan perempuan dan anak dalam aksi terorisme. Sejauh ini terdapat belasan perempuan yang terbilang kasus tindakan terorisme.

Jika melihat perspektif global yang berkembang, kata dia, perempuan dan anak yang terlibat aksi teror merupakan korban dari ideologi terorisme.

Dia menjelaskan, pada hari ini melalui United Nation (NT) masih melihat perempuan dan anak sebagai korban, walaupun sudah direkrut oleh kelompok terorisme.

"Secara fakta memang jadi pelaku, tapi sesungguhnya perempuan dan anak adalah korban yang dilakukan oleh kaum pria dalam proses radikalisasi yang dijalankan kelompok terorisme," kata mantan Kadiv Humas Polri itu.

Boy melihat perempuan dan anak merupakan kelompok yang terbilang rentan terpapar ideologi radikal terorisme.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan langkah pencegahan sejak dini dari lingkungan terkecil perlu dilakukan untuk membendung narasi ideologi terorisme.

Salah satu bentuk pencegahan tersebut dapat dimulai dari level desa, termasuk dengan menghadirkan program kolaborasi lintas lembaga terkait pemberdayaan perempuan dan anak yang mendukung upaya pencegahan terorisme.

Sebagai bagian dari upaya mengimplementasikan langkah tersebut, BNPT bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyepakati kerjasama di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta penanggulangan terorisme.

Kerja sama ini diresmikan melalui penandatangan nota kesepahaman antara BNPT dan Kemen PPA di Jakarta, Selasa (19/4) yang dilakukan Kepala BNPT Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H. serta Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati, S.E.,M.Si. (Bintang Puspayoga).

Baca juga: 5 Teroris Jaringan NII di Tangsel Ditangkap Densus 88, Tersangka Terlibat Teror di Bali dan Jakarta

Senada dengan Kepala BNPT, Menteri PPA melihat keterlibatan perempuan dan anak dalam also terorisme ini dipicu kerentanan kelompok tersebut untuk terpapar ideologi teror, sehingga kemudian mereka menjadi pelaku sekaligus korban.

"Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perempuan rentan dilibatkan dalam aksi terorisme. Seperti kita ketahui bersama, itu adalah budaya patriarki, ekonomi maupun akses informasi," kata Bintang Puspayoga.

Karena itu dia berharap dengan kerja sama antara BNPT dan Kemen PPPA, kedua lembaga dapat berkolaborasi mewujudkan strategi penanggulangan terorisme, termasuk salah satunya dengan ikut berpartisipasi dalam program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak.

Sejauh ini, Bintang mengatakan terdapat 142 model Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak di Indonesia. Dengan kerja sama yang diikat, BNPT diproyeksikan untuk terlibat lebih aktif menciptakan desa-desa ramah perempuan utamanya di daerah-daerah rawan aksi teror.

"Mudah-mudahan kita bisa turun bersama, bisa mewujudkan yang namanya Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak yang bebas keterpaparan dari paham radikal terorisme," kata dia.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved