Kisah Pemudik di Pelabuhan Merak: 'Nikmati' Jalan Meski Terjebak Macet

Pelabuhan Merak di Cilegon ramai dipadati penumpang menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah/2022 Masehi.

Editor: Glery Lazuardi
istimewa
Ilustrasi pemudik di Pelabuhan Merak 

TRIBUNBANTEN.COM - Pelabuhan Merak di Cilegon ramai dipadati penumpang menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah/2022 Masehi.

Dalam keterangan yang diterima, selama beberapa hari terakhir jumlah penumpang mencapai kisaran 40 ribu orang per hari dengan jumlah kendaraan 10 ribu-an.

Melonjaknya arus pemudik membuat pemudik rata-rata lebih lama dari hari biasa untuk masuk ke kapal Ferry untuk menyeberangi Selat Sunda menuju Bakauheni, Lampung.

Situasi antrian ternyata justru dinikmati para pemudik. Mereka sedari awal sudah menyadari akan ada antrian di Pelabuhan Merak.

“Kita nikmati. Namanya mudik ya begini, asyik-asyik saja,” kata Ikhsan Koto, pemudik asal Cibitung, Bekasi yang hendak menuju kampung halamannya di Ampek Angkek, Candung, Bukit Tinggi, Sumatera Barat, pada Selasa (27/4/2022) pukul 18.30 WIB

Baca juga: Demi Keamanan, Pemerintah Provinsi Banten Kerahkan 200 Personel untuk Pantau Arus Mudik Lebaran

Ikhsan Koto dan kendaraan yang ditumpanginya tengah antri di dermaga Eksekutif, Pelabuhan Merak bersama ratusan kendaraan lainnya.

Ia memilih turun dari kendaraan dan berjalan-jalan tak jauh dari kendaraannya.

Sesekali ia bercengkerama dengan sesama pemudik lain untuk berbagi cerita seputar perjalanan mudiknya.

Antrian di dermaga ekskutif membuatnya bertambah kenalan.

Ia sebelumnya memasuki kawasan Pelabuhan Merak pukul 17.30 WIB.

Setelah bertanya dengan petugas kepolisian, ia diarahkan menuju dermaga eksekutif sesuai dengan tiket kapal ferry yang dipesannya lewat aplikasi Ferizy yang bisa diunduh lewat telepon pintar.

“Tiket kapal Ferry jam 21.00 WIB, sekarang belum jam 19.00, jadi kita sampai lebih cepat dari perkiraan. Kita sengaja datang lebih cepat, khawatir ketinggalan. Tetapi ternyata perjalanan lancar,” kata Ikhsan.

Perjalanan dari Cibitung menuju Pelebuhan Merak ditempuhnya kurang dari 2 jam.

“Lancar tidak ada hambatan di jalan. Perjalanan juga aman,” tuturnya.

Ikhsan mengaku sangat senang, ritual mudik kembali terlaksana.

Pasalnya selama dua kali lebaran sebelumnya, ia tak bisa mudik lantaran anjuran dari pemerintah untuk menghindari mudik guna mencegah penyebaran Covid-19.

“Dulu setiap tahun mudik. Jadi senang sekali tahun ini bisa mudik lagi,” tambah Ikhsan.

Jika Ikhsan Koto memilih berjalan-jalan di sekitar mobil dan bercengkerama dengan pemudik lain, Rere, seorang pegawai swasta memilih nongkrong di kafe yang hanya berjarak 20 meter dari posisi kendaraannya.

“Sambil buka puasa di sini. Disyukuri saja, mungkin kalau tidak ada antrian kita buka puasanya di kapal,” kata wanita asal Solok, Sumatera Barat.

Baca juga: Pemudik Mulai Berdatangan di Stasiun Rangkasbitung Lebak, Saepul Mudik Bersama Keluarga

Rere juga mengaku tak masalah harus antri memasuki kapal Ferry.

“Ya memang harus antri, kapal kan adanya setiap jam dan mobil masuknya satu-satu,” ujarnya.

Sementara itu Ahmad Ridoan Nasution, sopir bus Raflesia trayek Yogya-Bengkulu memilih duduk bercengkrama dengan kru bus lainnya.

Mereka duduk-duduk di halaman rumput, persis di sebelah antrian bus di dermaga eksekutif.

Bus yang disopirinya penuh dengan penumpang berjumlah 36 orang.

“Kita dan penumpang nyaman-nyaman saja karena sedari awal sudah tahu bakal antri di Pelabuhan Merak,” kata Ahmad Ridoan Nasution yang mengaku nama panggilannya Ucok Giham.

Ucok Giham, 49 tahun, mengaku tak masalah asal antrian diperlakukan adil dan tak ada saling serobot memasuki kapal.

“Sejauh ini pengaturannya bagus. Sopir juga tak saling serobot,” kata pria asal Mandailing Natal tetapi sudah lama merantau ke Bengkulu.

Aga rlebih lancar, Ucok menyarankan truk dilarang menggunakan dermaga eksekutif selama arus mudik.

Menurutnya dermaga eksekutif sebaiknya hanya untuk kendaraan pribadi dan bus.

Ia pun menunjuk antrian truk-truk di dermaga eksekutif.

Baca juga: Demi Kemanan Mudik, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Siapkan Satgas Rawan Begal di Sumatra

“Harusnya dilarang, truk pergunakan saja dermaga regular. Jadi tidak penumpukan di dermaga eksekutif,” ujar Ucok.

“Kalau mengenai antrian tak masalah. Seninya mudik ya begini, ada antrian. Kalau tidak ada antri, tidak ada mudik namanya,” tutur Ucok sambil melempar tawa.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved