Breaking News:

Perjuangan Guru Honorer hingga Akhir Hayat, Jenazahnya Harus Ditandu Susuri Sungai selama 13 Jam

Ini cerita perjuangan berat guru honorer. Hingga akhir hayat pun, guru honorer ini masih harus berjuang untuk dapat dimakamkan.

Editor: Glery Lazuardi
Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan
ilustrasi 

TRIBUNBANTEN.COM - Ini cerita perjuangan berat guru honorer.

Hingga akhir hayat pun, guru honorer ini masih harus berjuang untuk dapat dimakamkan.

Guru honorer itu bernama Daning.

Daning meninggal dunia pada beberapa waktu lalu.

Namun, jenazah Daning harus ditandu warga selama 13 jam untuk dimakamkan di kampung halaman di Dusun Batannato.

Mereka menempuh perjalanan selama 13 jam untuk sampai di kampung halaman almarhum Daning.

Baca juga: Oknum Polisi Ini Selingkuh dengan Polwan, Layangan Putus Versi Polda Metro Jaya pun Viral di TikTok

Mereka terpaksa harus berjalanan kaki sejauh 40 kilometer, lantaran kondisi jalanan tak bisa dilewati ambulans.

Dikutip dari Kompas.com, Puluhan warga di Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa harus menandu jenazah Daning sejauh 40 kilometer.

Mereka manandu jenazah sang pahlawan tanpa tanda jasa secara bergantian dari RSU Majene ke kampung halamannya di Dusun Batannato, Desa Popenga, Kecamatan Ulumanda, Majene, Sulbar pada Sabtu (21/5).

Perjalanan selama 13 jam itu melewati gunung, sungai dan hutan belantara.

Mereka bahkan sampai menembus kegelapan malam dan diguyur hujan deras.

Untuk diketahui, jenazah guru honorer itu ditandu mulai dari 10.00 hingga 23.30 WITA.

Meski begitu, mereka tetap berjuang untuk memberikan penghormatan atas pengabdian sang guru yang telah mencerdaskan anak-anak di wilayahnya.

Seorang warga yang ikut menandu, Kamarruddin mengatakan, kejadian ini bukan pertama kalinya bagi mereka.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved