Breaking News:

PPATK Ungkap Modus Pengumpulan Dana Terorisme, Terkini Mahasiswa Diduga Kumpulkan Dana untuk ISIS

IA (22), mahasiswa, diamankan aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri karena diduga ikut mengumpulkan dana membantu organisasi ISIS

Editor: Glery Lazuardi
Istimewa
Ilustrasi tim Densus 88 Polri melakukan pengepungan terduga teroris 

TRIBUNBANTEN.COM - IA (22), mahasiswa, diamankan aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri karena diduga ikut mengumpulkan dana membantu organisasi Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS) di Indonesia.

IA merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Malang. IA ditangkap pada 23 Mei 2022 siang.

Diketahui, IA berperan membantu menyalurkan dana ke organisasi ISIS, IA juga pernah melakukan komunikasi ke tersangka teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) berinisial MR.

Adapun komunikasi tersebut berkaitan dengan aksi amaliyah ke tempat fasilitas umum dan kantor polisi.

Baca juga: Kumpulkan Dana untuk ISIS, Mahasiswa Perguruan Tinggi di Malang Ditangkap Densus 88, Diduga Teroris

Pihak Densus 88 Antiteror Polri telah melakukan koordinasi dengan pihak Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait modus pengumpulan dana kelompok teroris.

Ketua Kelompok Hubungan Masyarakat PPATK, M. Natsir Kongah, mengungkap telah terjadi perubahan model pendanaan terorisme.

Pada 2015, sumber pendanaan terorisme berasal dari usaha perdagangan, tindak kriminal, dan menggunakan sistem pembayaran secara elektronik.

Pada 2019, kelompok teroris mempunyai sumber pendanaan secara mandiri atau self funding.

Pada 2021 hingga sekarang, sumber pendanaan terorisme dari sponsor baik pribadi ataupun kelompok masyarakat.

"Itu modus pengumpulan dana (untuk kegiatan terorisme,-red) terus berkembang," kata M. Natsir Kongah, dalam sesi diskusi 'Menyoal Donatur Teroris' yang digelar Jakarta Journalist Center (JJC), pada Rabu (25/5/2022).

Baca juga: Terungkap! Fakta Sebenarnya di Balik UAS Dilarang Masuk Singapura, Apa karena Teroris? atau ISIS?

Dia melihat, pola pendanaan terorisme banyak dilakukan melalui transaksi tunai. Di mana, pihaknya masih kesulitan untuk mengungkap aliran dana yang ada.

Sumber pendanaan terorisme untuk melakukan aksi teror juga berasal dari luar negeri. Di antaranya, yaitu Amerika Serikat dan Singapura.

"Ada dari dalam (negeri,-red) keluar (negeri,-red). Luar (negeri,-red) ke dalam (negeri,-red)" tambahnya.

Sejauh ini, pihaknya sudah berupaya menghentikan transaksi mencurigakan yang diduga dimanfaatkan untuk kepentingan teror.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved