Breaking News:

Diajak Jatuhkan Sanki Terhadap Rusia, Presiden Serbia Tolak Ajakan Jerman, Ini Alasannya

Presiden Serbia Aleksandar Vuvic secara langsung menolak ajakan Kanselir Jerman untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia

Editor: Abdul Rosid
(Photo by ARIS MESSINIS / AFP)
Asap dan kotoran membubung di kota Severodonetsk selama pertempuran antara pasukan Ukraina dan Rusia di wilayah Donbas, Ukraina timur pada 2 Juni 2022. 

TRIBUNBANTEN.COM – Presiden Serbia Aleksandar Vuvic secara langsung menolak ajakan Kanselir Jerman untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.

Tolakan tersebut bukan tanpa alasan, menurut Vuvic sanksi yang kan dijatuhkan ke Rusia diprediksi tidak akan efektif.

Diketahui, Rusia meginvasi Ukraina sejak Febuari 2022, sampai saat ini invasi ttu belum kunjung usai.

Dikutip dari Reuters, Scholz mengungkapkan sebagai calon anggota UE, Serbia harus mengikuti langkah UE yang telah menjatuhkan sanksi kepada Rusia.

Namun Vuvic mengatakan, negaranya berada di posisi yang sulit, serta UE harus mempertimbangkan hubungan khusus yang telah lama terjalin antara Rusia dan Serbia.

Baca juga: Awas! Empat Zodiak Ini Diramalkan Tertimpa Musibah, Cek Apakah Kamu Termasuk?

“Sejauh menyangkut sanksi, kami memiliki posisi yang berbeda. Kami ingat sanksi (terhadap Serbia) dan kami tidak berpikir sanksi itu efisien,” kata Vucic saat menghadiri konferensi pers di ibu kota Serbia, Beograd.

Scholz berjanji akan membantu negara-negara Balkan Barat memperoleh keanggotaannya di Uni Eropa. Langkah ini bertujuan untuk meredakan ketegangan regional dan mengurangi pengaruh Rusia yang besar di Kawasan tersebut.

Invasi Rusia ke Ukraina, menjadi peringatan bagi UE untuk mengikat Montenegro, Serbia, Albania, Makedonia Utara, Bosnia dan Herzegovina serta Kosovo untuk lebih dekat dengan UE, baik melalui keanggotaan penuh atau komunitas alternatif.

Berbicara mengenai keanggotaan di UE, Scholz yang sebelumnya bertemu dengan Perdana Menteri Kosovo Albin Kurti, mengatakan telah menjadikan keanggotaan Kosovo untuk UE sebagai prioritas dan juga mendukung aspirasinya untuk liberisasi visa UE.

“Sangat penting untuk mengirim sinyal kepercayaan baru dan harapan bahwa proses aksesi ini diinginkan oleh UE dengan sangat serius, dan itu juga memiliki peluang realistis jika semua orang berusaha,” kata Scholz.

Sementara itu, Ukraina dan Moldova telah mengirim permintaan kepada UE untuk mempercepat proses keanggotaan mereka, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah aksesi kedua negara ini akan didahulukan atau harus menunggu giliran mereka setelah negara-negara Balkan Barat.

Namun, negara-negara UE termasuk Jerman mengatakan tidak akan ada jalan pintas untuk menerima Ukraina sebagai anggota UE.

Baca juga: Rangkaian Proses Kedatangan Eril di Bandara Soetta Sampai ke Bandung, Disemayamkan di Cargo Jenazah

Uni Eropa menghadapi ketegangan baru, setelah munculnya rencana pemisahan diri Serbia Bosnia yang pro- Rusia. Seorang ahli Balkan di Universitas Graz Austria, Florian Bieber menyalahkan kurangnya kemajuan dalam tawaran keanggotaan UE di kawasan Balkan.

“Fakta bahwa hal itu tidak terjadi adalah masalah nyata dan pengaruh yang berkembang dari negara-negara lain seperti Rusia dan China adalah akibat dari proses yang tidak berkembang ini,” kata Bieber,

Dia menambahkan, saat ini penting memantau apakah kepemimpinan Scholz yang mulai menjabat pada bulan Desember lalu, akan memberikan kemajuan pada proses keanggotaan UE bagi negara-negara di kawasan Balkan, seperti yang dilakukan mantan kanselir Jerman, Angela Markel yang menyatakan dukungannya untuk keanggotaan UE bagi negara-negara Balkan namun tidak berbuat banyak untuk mewujudkan dukungannya tersebut.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Serbia Tolak Ajakan Jerman untuk Jatuhkan Sanksi terhadap Rusia

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved