Breaking News:

Harga Asli Pertalite, Solar-Elpiji Jika Tak Disubsidi Diungkap Dirut Pertamina, Ini Daftarnya

PT Pertamina (Persero) menyatakan, harga keekonomian produk bahan bakar minyak dan elpiji meningkat tajam, seiring melonjaknya harga Migas dunia.

Editor: Ahmad Haris
dok Pertamina
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Ia menyatakan, harga keekonomian produk bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji meningkat tajam, seiring dengan melonjaknya harga minyak dan gas (migas) dunia. Nicke juga mengungkap harga bbm dan gas jika tidak disubsidi pemerintah. 

TRIBUNBANTEN.COM - Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan, harga keekonomian produk bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji meningkat tajam, seiring dengan melonjaknya harga minyak dan gas (migas) dunia. 

Akibatnya, saat ini Pertamina menjual produk BBM dan elpiji dengan harga di bawah harga keekonomian, guna menjaga daya beli masyarakat. 

Nicke Widyawati mengungkapkan, harga produk BBM mulai dari Pertalite, Pertamax, hingga Solar, serta produk elpiji penugasan yang dijual Pertamina lebih rendah dari nilai keekonomiannya. 

Baca juga: Berikut Ini Daftar Harga BBM Jenis Pertamax, Pertalite, hingga Dexlite Per 6 Juli 2022

Untuk Pertalite, kata Nicke, harga pasar saat ini adalah sebesar Rp 17.200 per liter, namun harga jual Pertamina masih tetap Rp 7.650 per liter.

Dengan demikian, setiap liter Pertalite yang dibayar oleh masyarakat, pemerintah mensubsidi Rp 9.550 per liternya. 

Kemudian untuk Pertamax, Pertamina masih mematok harga Rp 12.500 per liter. 

Padahal, untuk bensin dengan nomor oktan atau RON 92, kompetitor sudah menetapkan harga sekitar Rp 17.000 per liter, sebab secara keekonomian harga pasar telah mencapai Rp 17.950. 

"Kita masih menahan dengan harga Rp 12.500, karena kita juga pahami kalau Pertamax kita naikkan setinggi ini, maka shifting ke Pertalite akan terjadi, dan tentu akan menambah beban negara," ujar Nicke, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (9/7/2022). 

Sementara itu, per Juli 2022, harga keekonomian untuk Solar CN-48 atau Biosolar (B30) sebesar Rp 18.150 per liter, namun Pertamina masih menjual jenis BBM tersebut dengan harga Rp 5.150 per liter. 

"Jadi untuk setiap liter Solar, pemerintah membayar subsidi Rp 13.000," kata Nicke. 

Adapun untuk elpiji PSO sejak 2007 belum ada kenaikan, di mana harganya masih Rp 4.250 per kilogram, sementara harga pasar Rp 15.698 per kg. 

Dengan demikian, subsidi dari pemerintah adalah Rp 11.448 per kg.

Cegah kelebihan kuota 

Lebih lanjut Nicke menyebutkan, pemulihan ekonomi pasca pandemi telah berdampak pada meningkatnya mobilitas masyarakat, sehingga tren penjualan BBM dan elpiji ikut naik. 

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved