Stunting

Kenali Apa itu Stunting dan Risikonya

Stunting menjadi persoalan besar Indonesia dalam dunia kesehatan yang saat ini sedang berusaha diatasi

Tayang:
Penulis: Siti Nurul Hamidah | Editor: Siti Nurul Hamidah
Pinterest/flahsyd016
Ilustrasi, stunting menjadi persoalan besar Indonesia dalam dunia kesehatan yang saat ini sedang berusaha diatasi 

TRIBUNBANTEN.COM - Stunting adalah suatu kondisi di mana anak mengalami kekurangan gizi dalam waktu yang lama, terhitung sejak dalam kandungan atau 1000 hari pertama kehidupan anak.

1000 hari pertama kehidupan anak adalah 270 hari saat berada di kandungan dan 730 hari sampai dia di usia 2 tahun.

Stunting menjadi persoalan besar Indonesia dalam dunia kesehatan yang saat ini sedang berusaha diatasi.

Dikutip dari kemenkes.go.id, Senin, (18/10/2022), stunting adalah masalah kurang gizi kronis dengan ciri-ciri fisik tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya. 

Beberapa di antaranya mengalami kesulitan dalam perkembangan fisik dan level kognitif yang optimal seperti lambat berbicara atau berjalan, hingga sering mengalami sakit.

Selain itu, stunting juga menyebabkan masalah pada sistem metabolisme anak.

Percepatan penurunan stunting pada Balita menjadi program prioritas pemerintah sebagaimana termaktub dalam RPJMN 2020-2024.

Baca juga: Risiko Stunting Lebih Tinggi Dialami Anak yang Terkena Tuberkulosis, Ini Kata Dokter

Dilansir dari stunting.go.id, Selasa (18/10/2022), Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia, memaparkan bahwa berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4 % .

Angkat stunting tersebut menurut WHO (World Health Organization), terbilang tinggi dan harus dilakukan segera upaya-upaya penanganannya.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membuat target nasional pada tahun 2024, dengan prevalensi stunting turun hingga 14 % . 

Stunting menjadi ancaman utama terhadap kualitas hidup generasi Indonesia.

Baca juga: BKKBN Banten-Komisi IX DPR RI Sosialisasi Cara Cegah Stunting: Calon Pengantin Harus Cek Kesehatan

Stunting  memiliki risiko dan dampak buruk bagi kehidupan anak, yaitu dapat menyebabkan gagal tumbuh, gangguan sistem kekebalan tubuh, masalah fungsi otak dan perkembangan organ.

Di lain sisi, anak dengan stunting juga rentan infeksi, gangguan fisik dan mental, dan adanya ancaman tidak berjalan dengan baik fungsi hidup dan produktivitas di masa depan.

Oleh karena itu, perlunya menghindari risiko anak mengalami stunting, berikut ini TribunBanten.com rangkum dari berbagai sumber risiko stunting.

Pertama, risiko terjadinya stunting pada anak dapat meningkat  jika ibu hamil memiliki beberapa kondisi atau faktor ini, yaitu:

Baca juga: Tekan Angka Stunting, BKKBN Banten dan Pemkab Lebak Luncurkan Program Jumat Serius

1. Ibu Mengalami Intrauterine Growth Restriction (IUGR)

Di mana kondisi terhambatnya pertumbuhan janin di dalam kandungan. 

IUGR ditandai dengan ukuran dan berat badan lahir bayi yang rendah atau sangat kecil.

Kondisi ini dapat membuat bayi lebih lemah dan rentan terkena beberapa masalah kesehatan.

2. Perawakan Pendek

Perawakan pendek merupakan suatu persoalan genetik, perawakan pendek dapat menurun ke anak.

Orang tua yang memiliki perawakan pendek harus memeriksa apakah anak mengalami stunting atau hanya soal genetik

Baca juga: Harganas ke 29, Pj Gubernur Banten Minta Penanganan Stunting dan Gizi Buruk Difokuskan

3. Berat Badan Ibu Tidak Naik Selama Kehamilan

Berat badan ibu yang tidak naik selama kehamilan perlu diwaspadai, perlu diperiksa secara berkala apakah anak memiliki ciri atau risiko stunting.

4. Tingkat pendidikan rendah

Tingkat pendidikan yang rendah dengan kurangnya pengetahuan terhadap pola asuh anak yang baik dan pemberian gizi seimbang, dapat membuat anak lebih dekat pada risiko stunting.

Oleh karena itu, orang tua perlu banyak belajar untuk dalam pemenuhan gizi anak, pemberian pengajaran dan pola asuh.

Baca juga: Pemkot Serang Alokasikan Rp 36 Miliar untuk Turunkan Kasus Stunting Tahun 2022

5. Kemiskinan

Kemiskinan pada orang tua dapat meningkatkan anak mengalami stunting, karena beberapa orang tua yang hidup dalam kemiskinan tidak dapat memenuhi gizi anak mereka.

6. Tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk

Tinggal di  lingkungan dengan sanitasi buruk dapat mengakibatkan anak stunting.

Hal tersebut disebabkan karena anak hidup dalam lingkungan yang tidak sehat dengan kondisi air yang tidak bersih atau penuh bakteri.

Baca juga: Banten Masuk Daftar 12 Provinsi dengan Tingkat Stunting Paling Tinggi di Indonesia

Kedua, risiko stunting pada anak, dapat meningkat dengan kondisi-kondisi berikut:

1. Anak mengalami penelantaran;

2. Tidak diberikan air susu ibu (ASI) eksklusif;

3. Tidak mendapatkan makanan pendamping asi yang berkualitas baik dan malah diberikan makanan pendamping asi dengan kualitas buruk;

4. Menderita penyakit yang menghalangi penyerapan nutrisi atau gizi dari makanan, di antaranya penyakit TBC, penyakit jantung bawaan, anemia, infeksi kronis, serta sindrom malabsorbsi.

Itulah penjelasan singkat tentang stunting dan risikonya tang telah TribunBanten.com rangkum dari berbagai sumber.

Jika  mencurigai gejala-gejala anak terkena stunting, segera periksa dan konsultasi ke dokter serta perbaiki kebutuhan gizi dengan baik.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved