Breaking News:

Cerita Penjual Tahu Bulat di Banten: Bertahan Hidup dalam Kesulitan Ekonomi, Nyaris Bunuh Diri

Aseng (38), penjual tahu bulat di Banten. Aseng menangis menceritakan kisah hidupnya berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Penulis: mildaniati | Editor: Glery Lazuardi
mildaniati
Aseng (38), penjual tahu bulat di Banten. Aseng menangis menceritakan kisah hidupnya berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Aseng sempat berpikir untuk bunuh diri dengan cara menabrakkan diri saat melamun sambil mengendarai sepeda motor. 

Laporan Wartawan Tribun Banten.com, Mildaniati

TRIBUNBANTEN. KOTA SERANG - Aseng (38), penjual tahu bulat di Banten. Aseng menangis menceritakan kisah hidupnya berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Aseng sempat berpikir untuk bunuh diri dengan cara menabrakkan diri saat melamun sambil mengendarai sepeda motor.

Beruntung, Aseng berupaya tetap bangkit dan menjalani cobaan hidup yang sedang dihadapi.

"Sempat mau bunuh diri. Saya ingin menabrakkan diri saking pusing, pikiran, tambah himpitan ekonomi," ujarnya saat ditemui di jalan Mayor Syafei Nomor 118 Kota Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Jumat (11/11/2022).

Baca juga: Nobar Piala Dunia 2022 di Banten, Warga Tanah Jawara Hati-hati! Bisa Didenda Rp 1 Miliar

Air matanya Aseng jatuh ke pipi tak kuasa ditahan. Dia sesekali menyeka air mata sambil terus melanjutkan menggoreng tahu bulat.

Aseng adalah penjual sotong dan tahu bulat di Kota Serang selama 1,5 tahun. Aslinya dia adalah warga Kabupaten Pandeglang. Saat ini dia tinggal menumpang di rumah mertuanya di Kampung Keluncing, Kelurahan Kasemen, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Sebelum peristiwa banjir melanda, dia memiliki sebuah rumah dekat bantaran kali di wilayah Keganteran, Kecamatan Kasemen Kota Serang. Rumh itu ditempati oleh istri dan ketiga anaknya.

Namun sayang, ketika banjir melanda Kota Serang pada awal Maret 2022, rumah miliknya hancur diterjang banjir dan terbawa arus.

Dia hanya mampu menyelamatkan istri dan ketiga anaknya saat air sudah deras dan masuk setinggi 1,5 meter.

Saat itu dia harus berjuang melewati banjir untuk menyelamatkan istri dan anaknya yang terjebak banjir di dalam kamar. Pusaran air semakin deras memenuhi seisi rumahnya.

Dia juga sempat menghanyutkan diri untuk menyelamatkan anaknya yng terbawa arus, dengan dibantu seutas tali oleh warga, anaknya berhasil diselamatkan, namun semua isi rumah dan barang berharga lenyap terbawa arus.

Tidak sempat mengurus bantuan dari pemerintah bagi warga yang rumahnya terdampak, berita duka kembali datang dari keluarganya, ayah Aseng meninggal dunia dan dia harus bergegas pergi ke Pandeglang demi mengurus jenazah almarhum.

"Setelah banjir saya nerima kabar kalo ayah meninggal, saya langsung pergi ke Pandeglang dengan uang seadanya," ungkapnya.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Banten Hari Ini, 11 November 2022: Berpotensi Hujan di Beberapa Wilayah

Halaman
123
Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved