Breaking News:

GMNI: Indonesia Perlu Waspadai Ketegangan Geo Politik Taiwan dan China

Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino, mengatakan calon pemimpin Indonesia harus memahami situasi geopolitik global terkini.

Editor: Glery Lazuardi
istimewa
Rapat Pimpinan Nasional GMNI ke-22 di Yogyakarta. Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino, mengatakan calon pemimpin Indonesia harus memahami situasi geopolitik global terkini. Salah satu di antaranya krisis di Selat Taiwan. Lantaran lokasi geografis yang diapit kawasan strategis seperti Selat Malaka, Laut China Selatan, Semenanjung Korea, dan Filipina. 

TRIBUNBANTEN.COM - Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino, mengatakan calon pemimpin Indonesia harus memahami situasi geopolitik global terkini.

Salah satu di antaranya krisis di Selat Taiwan. Lantaran lokasi geografis yang diapit kawasan strategis seperti Selat Malaka, Laut China Selatan, Semenanjung Korea, dan Filipina.

“Situasi di Selat Taiwan sangat berpengaruh pada kepentingan Indonesia bahkan dunia. Dia akan berpengaruh pada jalur perdagangan lintas selat baik jalur energi atau pangan global," ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan dalam pidato di pembukaan agenda Rapat Pimpinan Nasional GMNI ke-22 di Yogyakarta.

Baca juga: Bukan Sekedar Ancaman, Akhirnya Taiwan Tembak Jatuh Mata-mata China Pertama Kali, "Tindakan Balasan"

Jika melihat situasi di Taiwan, kata dia, Pasifik kini menjadi “Teater” bagi pertarungan geopolitik global.

Posisi Indonesia menjadi episentrum yang tentunya ditetapkan sebagai sasaran utama untuk digalang sebagai sekutu strategis diantara sejumlah aliansi negara-negara yang berkepentingan.

Maka Indonesia tidak boleh hanya mengartikan pemilihan Presiden sebagai aktivitas politik rutin 5 tahunan.

"Sangat disayangkan apabila perhelatan politik 2024 hanya diartikan aktivitas politik 5 tahunan," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, pemimpin Indonesia ke depan harus paham tentang landscape geopolitik global saat ini.

Dia menjelaskan, variabel geopolitik sangat berpengaruh pada upaya Indonesia untuk mewujudkan kepentingan nasionalnya.

Di tengah dunia yang berada dalam interkoneksi dan interpendensi, variabel geopolitik tidak boleh diabaikan dalam mendesain masa depan Indonesia.

“Pemimpin ke depan harus punya visi geopolitik, setidaknya mampu membaca landscape geopolitik global. Terutama agar Indonesia mampu mengelola globalisasi untuk kepentingan kesejahteraan rakyat," ujarnya.

Di kesempatan itu, dia menyampaikan sikap politik GMNI yang memilih bersikap independen dan kritis dalam menghadapi perhelatan politik 2024.

Baca juga: Makin Tegang, 14 Kapal Perang dan 66 Pesawat China di Selat Taiwan: Lakukan Tugas Bersejarah

Dia menambahkan peran GMNI yakni memastikan pemimpin Indonesia ke depan berpihak pada kepentingan rakyat kecil. Dan GMNI menolak penggunaan politik identitas yang bisa merusak keakraban kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Semua kader GMNI harus bersikap kritis, terutama yang menyangkut kehidupan rakyat kecil dan harus berani melawan di garda depan penggunaan politik identitas yang bisa merusak kehidupan berbangsa dan bernegara," tambahnya

Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved