Breaking News:

Peringatan ke-77 Peristiwa Lengkong Tangerang, Ingatkan Generasi Muda Jangan Lupakan Sejarah

Yayasan 25 Januari 1946 menggelar Ziarah Peringatan ke-77 Peristiwa Lengkong, Tangerang

Editor: Glery Lazuardi
Istimewa
Yayasan 25 Januari 1946 menggelar Ziarah Peringatan ke-77 Peristiwa Lengkong, Tangerang. Ketua Yayasan 25 Januari 1946, Rani D. Sutrisno, mengatakan kegiatan itu menjadi pengingat bagi generasi muda akan sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. 

TRIBUNBANTEN.COM - Yayasan 25 Januari 1946 menggelar Ziarah Peringatan ke-77 Peristiwa Lengkong, Tangerang

Ketua Yayasan 25 Januari 1946, Rani D. Sutrisno, mengatakan kegiatan itu menjadi pengingat bagi generasi muda akan sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia.

Dia mengucapkan terimakasih atas kehadiran para tokoh nasional dan tamu undangan lainnya.

"Kehadiran bapak dan ibu adalah kehormatan bagi kami, karena merupakan wujud penghargaan dan ungkapan simpati yang tulus untuk mengenang jasa dan mendoakan para perwira dan taruna MA Tangerang yang gugur dalam menjaga kedaulatan NKRI," kata dia, dalam keterangannya pada Rabu (25/1/2023).

Baca juga: Perayaan HUT Republik Indonesia ke-75, Monumen Lengkong Sejarah Perjuangan Rakyat Tangerang Selatan

Dirjen Potensi Pertahanan Kemenhan Mayjen TNI Dadang Hendrayudha memimpin upacara militer dan ziarah peringatan 77 Tahun Peristiwa Lengkong Tangerang, pada Rabu (25/1/2023).

Acara berakhir di TMP Taruna Tangerang, pada Rabu pukul 11.00 WIB.

Setelah itu, acara dilanjutkan peletakan karangan bunga dan silaturahmi sahabat sejarah di Monumen Daan Mogot, Jalan Subianto Djojohadikusumo, BSD City, Tangerang Selatan.

dalam keterangan ke media massa.

Untuk diketahui, acara dihadiri ratusan tamu undangan dari TNI/ Polri, masyarakat sipil serta berbagai organisasi kemasyarakatan.

Selain jajaran TNI/ Polri, turut hadir Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah, juga tampak Biantiningsih Miderawati Djiwandono, Maryani Ekowati dan Hashim Djojohadikusumo, yang merupakan keluarga kandung Menhan Prabowo, yang juga keponakan kandung dari 2 pahlawan nasional yang berbarengan gugur di Pertempuran Lengkong Lettu Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna Soejono Djojohadikusumo.

John Ferry Mogot mewakili keluarga Mayor (Anumerta) Daan Mogot, Agustanzil Sjahroezah cucu dari Haji Agus Salim, sesepuh pejuang Ketua Dewan Pertimbangan Harian Nasional 45, Sumartini Tjokrodimuljo yang telah berusia 95 tahun, Tinton Soeprapto dari Yapeta (Yayasan Pembela Tanah Air) serta keluarga para pahlawan nasional lainnya.

Pertempuran Lengkong adalah pertempuran Tentara Keamanan Rakyat melawan pasukan Jepang di Desa Lengkong, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia yang terjadi pada tanggal 25 Januari 1946.

Bermula dari Resimen IV TRI di Tangerang, yang mengelola Akademi Militer Tangerang, dengan dipimpin Mayor Daan Mogot, puluhan taruna akademi mendatangi markas Jepang di Desa Lengkong untuk melucuti senjata pasukan jepang.

Daan Mogot didampingi sejumlah perwira, antara lain Mayor Wibowo, Letnan Soetopo, dan Letnan Soebianto Djojohadikusumo.

Baca juga: Satpol PP Tangerang Selatan Menutup Sementara Situ Lengkong Wetan

Dalam proses perlucutan senjata yang awalnya berlangsung lancar, kemudian terjadi insiden letusan senjata dan mitraliur dari arah tersembunyi.

Kemudian terjadi pertempuran yang tak seimbang, dengan banyak korban berjatuhan di pihak Indonesia, di mana 33 taruna dan 3 perwira gugur, serta 1 taruna lainnya wafat setelah sempat dirawat di rumah sakit.

Perwira yang gugur adalah Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo. Peristiwa berdarah kini dikenal sebagai Peristiwa Pertempuran Lengkong.

Pada tanggal tersebut, kemudian berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dituangkan lewat Surat Telegram KSAD Nomor ST/12/2005 bertanggal 7 Januari 2005, ditetapkan sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer.

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved