Warga Serang Dipasung

Bantah Hotman Paris, Ketua RT Beberkan Alasan Ibu Dipasung di Hutan Banten! Begini Penjelasannya

Penulis: mildaniati
Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua RT 01/01 Kampung Nagara Padang, Desa Kampung Baru, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Juhenah (55) memberikan penjelasan soal ibu dipasung di hutan Banten. Menurut dia, upaya pemasungan itu dilakukan atas dasar kesepakatan warga. Hal ini, kata dia, karena Ani sering mengamuk sehingga membahayakan keselamatan warga sekitar.

TRIBUNBANTEN.COM - Ketua RT 01/01 Kampung Nagara Padang, Desa Kampung Baru, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Juhenah (55) memberikan penjelasan soal ibu dipasung di hutan Banten.

Menurut dia, upaya pemasungan itu dilakukan atas dasar kesepakatan warga. Hal ini, kata dia, karena Ani sering mengamuk sehingga membahayakan keselamatan warga sekitar.

"Dipasung berdasarkan kesepakatan warga dan anak," ujarnya saat ditemui di rumahnya, pada Selasa (28/11/2022).

Baca juga: Dinilai Tidak Manusiawi, Dinkes Kabupaten Serang Imbau Masyarakat untuk Tidak Pasung ODGJ

Dia mengungkapkan Ani berkeliling kampung membawa batu dan melempati rumah warga sekitar yang ditemui di jalan. Hal ini, terjadi ketika penyakitnya kambuh.

Warga yang geram dan takut melihat kelakuan Ani, akhirnya memutuskan untuk memasung. Sebelumnya Ani diikat kedua tangannya di rumah Soiah, namun lagi-lagi dia berhasil melepaskn ikatnnya.

Untuk membawa ke puskesmas, keluarga Ani tidak memiliki biaya yang cukup sehingga diputuskan untuk memasungnya dekat kali.

Lokasi pemasungan dipiih agar menudahkan Ani untuk mandi dan kakus.

"Karena membahayakan warga sekitar ngamuknya," kata dia.

Kata Juhenah, Ani dipasung pada Kamis malam tanggal 17 November 2022 jam 20.00 WIB.

Rantai sepanjang 1,5 meter dikalungkan pada leher Ani dan digembok. Sebelum rantai dipasang, leher Ani dibalut dengan ban sepeda agar rantainya tidak lecet di lehernya.

"Pakai ban sepedah biar tidak lecet dan dirante dilehernya digembok," terangnya.

"Sempet dirantai ditangan di rumah saudaranya kemudian lepas rantainya," tambahnya.

Setelah dirantai, kemudin ujung rantai digembok disebuah pohon, rantai diperoleh dari warga setempat.

"Rantainya dipohon sepanjang 1 meter setengah dari warga," ucapnya.

Baca juga: Hidup dalam Pasungan di Hutan, Emak-emak Asal Banten Makan dari Belas Kasih: Pakai Ember dan Gayung

Halaman
123

Berita Terkini