Dugaan Penolakan Pasien BPJS, Komisi V DPRD Banten akan Panggil dan Tegur RSUD Labuan

Komisi V DPRD Banten memastikan akan menegur dan meminta klarifikasi kepada RSUD Labuan terkait dugaan penolakan rawat inap terhadap pasien BPJS.

Tayang:
Editor: Abdul Rosid
Instagram
PASIEN BPJS - Komisi V DPRD Banten memastikan akan menegur dan meminta klarifikasi kepada RSUD Labuan terkait dugaan penolakan rawat inap terhadap pasien BPJS Kesehatan kategori Pekerja Penerima Upah (PPU). 

Kronologi Dugaan Penolakan Pasien

Istri pasien, Siti Nurlaila, mengatakan awalnya sang suami dibawa berobat ke Puskesmas Saketi pada Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 08.00 WIB.

Menurutnya, dokter di Puskesmas Saketi langsung melakukan pemeriksaan laboratorium karena kondisi pasien dinilai mengkhawatirkan.

“Hasil laboratorium dari Puskesmas Saketi menunjukkan tifus suami saya tinggi sampai 640 dan dokter menyarankan agar segera dirawat,” kata Siti kepada TribunBanten.com, Jumat (22/5/2026).

Namun, Suheri tidak bisa menjalani rawat inap di Puskesmas Saketi karena seluruh ruang perawatan dalam kondisi penuh.

Pihak puskesmas kemudian menyarankan pasien dirujuk ke rumah sakit lain, yakni RS Aulia atau RSUD Labuan.

Siti mengaku sempat menghubungi RS Aulia, tetapi rumah sakit tersebut juga disebut penuh.

“Dari RS Aulia katanya penuh juga, akhirnya kami membawa suami saya ke RSUD Labuan,” ujarnya.

Sekitar pukul 11.45 WIB, Suheri tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Labuan dengan membawa hasil laboratorium dari Puskesmas Saketi.

Setibanya di IGD, kata Siti, tenaga medis sempat menyampaikan bahwa pasien memang perlu menjalani perawatan.

Pihak rumah sakit kemudian melakukan sejumlah tindakan medis, mulai dari pemasangan infus, pengambilan sampel darah, hingga pemeriksaan rontgen.

Namun, setelah menunggu selama beberapa jam di ruang IGD, keluarga justru mendapat informasi bahwa pasien diperbolehkan pulang.

“Tadinya perawat bilang harus dirawat. Tapi setelah menunggu lama, saya tanya lagi kelanjutannya bagaimana, malah dijawab dipulangkan saja,” ucapnya.

Siti mengaku kecewa lantaran pihak rumah sakit hanya menyampaikan hasil laboratorium dan rontgen pasien dalam kondisi baik tanpa memberikan penjelasan rinci terkait hasil pemeriksaan tersebut.

“Hasil laboratorium dan rontgennya katanya bagus, tapi kami tidak dijelaskan secara detail. Setelah itu kami diminta menunggu obat untuk pulang,” katanya.

Menurut Siti, hingga saat ini kondisi suaminya masih lemah dan mengalami demam tinggi di rumah.

Ia berharap ada perhatian serius dari pihak terkait terhadap pelayanan kesehatan, khususnya bagi pasien BPJS yang membutuhkan penanganan cepat dan rawat inap.

“Sampai sekarang suami saya masih terbaring lemah di rumah dengan kondisi demam tinggi,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved