Di Hadapan ASN Pemkot Serang, Novel Baswedan Ingatkan soal Pengelolaan Anggaran dan SDM

Novel Baswedan mengingatkan ASN agar mewaspadai potensi korupsi dalam pengelolaan anggaran dan sumber daya manusia (SDM).

Tayang:
Penulis: Muhamad Rifky Juliana | Editor: Abdul Rosid
TribunBanten.com/Muhamad Rifky Juliana
Ketua Satgassus Pencegahan Korupsi Polri Novel Baswedan saat menjadi pemateri pelatihan penguatan budaya berintegritas antikorupsi bagi ASN Pemkot Serang, Rabu (28/1/2026). 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhamad Rifky Juliana

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Upaya pencegahan korupsi di lingkungan aparatur sipil negara (ASN) tidak cukup hanya mengandalkan integritas individu, tetapi juga harus diperkuat melalui sistem serta budaya kerja organisasi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Satgassus Pencegahan Korupsi Polri, Novel Baswedan, saat menjadi pemateri pelatihan penguatan budaya berintegritas antikorupsi bagi ASN Pemkot Serang, Rabu (28/1/2026).

Dalam paparannya, Novel menekankan bahwa integritas merupakan fondasi penting bagi ASN dalam menjalankan tugas pemerintahan. Menurutnya, banyak persoalan muncul akibat lemahnya integritas, yang pada akhirnya justru merugikan pelakunya sendiri.

Baca juga: Pemkot Serang Perkuat Budaya Antikorupsi, ASN Pelayanan Diingatkan Soal Gratifikasi

"Ketika seseorang berintegritas, ia punya tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan diri, meningkatkan kompetensi, serta kepedulian dalam menyelesaikan persoalan. Itu sangat dibutuhkan dalam pemerintahan, baik daerah maupun pusat," katanya.

Novel menyampaikan, ASN yang mampu menjaga integritas memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan karier dan meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan. Sebaliknya, ASN yang tidak berintegritas memiliki risiko lebih besar terjerat kasus korupsi akibat perbuatannya sendiri.

"Tentunya integritas dalam konteks pribadi itu diperlukan, tetapi perlu diikuti langkah-langkah komprehensif oleh organisasi, lembaga, atau satuan kerja. Caranya dengan membangun lingkungan kerja yang baik, pengawasan yang memadai, serta penegakan etik yang kuat. Dengan begitu, akan terbentuk budaya antikorupsi yang mendukung kinerja pemerintahan menjadi lebih baik," jelas Novel.

Novel juga menyoroti bahwa potensi korupsi bisa muncul di semua lini ASN. Namun, sektor dengan pengelolaan anggaran besar, baik belanja maupun pendapatan, memiliki risiko yang lebih tinggi.

Selain itu, sektor pengelolaan sumber daya manusia (SDM) juga dinilai strategis dalam mencegah praktik korupsi karena berkaitan langsung dengan pembinaan serta jenjang karier ASN.

"Karena bidang itu mendorong karier. Akan terjadi seleksi alam, yang baik bisa promosi, yang bermasalah menjadi catatan. Jadi semuanya saling berkaitan," ujar Novel.

"Kalau dibilang rawan, semua potensi ada. Namun, setiap celah harus dimitigasi. Artinya, kita membantu ASN dengan mendeteksi celah-celah tersebut, lalu membentuk lingkungan kerja yang kuat, saling mengingatkan, ada fungsi pengawasan yang baik, serta penegakan etik yang kuat. Dengan begitu, meskipun ada keinginan menyimpang, seseorang tidak bisa melakukannya. Itu keuntungannya," tambahnya.

Melalui penguatan budaya antikorupsi, ia berharap tumbuh kesadaran kolektif bahwa korupsi merupakan tindakan yang merugikan banyak pihak. Dengan demikian, meskipun ada peluang, ASN diharapkan mampu menahan diri karena memahami dampak jangka panjangnya.

"Godaan bisa muncul dari diri sendiri maupun dari luar. Karena itu, pejabat harus merawat, membina, dan menjaga seluruh ASN agar berkinerja baik, menjaga integritas pribadi, sehingga bisa bekerja optimal dan memiliki rekam jejak yang baik," pungkasnya.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved