Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhamad Rifky Juliana
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Kenaikan harga perangkat elektronik seperti handphone (HP) dan laptop mulai dirasakan di Kota Serang.
Sejumlah penjual menyebut, pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang memicu kenaikan harga di pasaran.
Untuk diketahui, per hari ini Senin (18/5/2026) nilai dolar tercatat berada di level Rp17.653,00 per 1 dolar AS.
Iyan, seorang penjual barang elektronik di Kota Serang mengatakan lemahnya nilai tukar sangat berpengaruh terhadap harga barang yang sebagian besar masih bergantung pada impor.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Ambruk, Komoditas Sayuran dan Bumbu Dapur di Tangsel Merangkak Naik
"Pastinya ketika memang dolar ini naik dan nilai rupiah terhadap dolar lemah, pasti akan ada kenaikan barang, semua barang ya, bukan hanya handphone, laptop, elektronik atau barang-barang lain, termasuk bahan pokok kemungkinan akan juga pasti naik," katanya saat dihubungi, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, kenaikan harga perangkat elektronik sudah mulai terjadi sejak awal Januari 2026.
"Dikarenakan yang saya baca sih dari internet, media sosial salah satunya karena kelangkaan memori internal sama RAM," ucap Iyan.
"Kenapa bisa langka? Karena katanya memori sama RAM ini diborong oleh AI. Jadi artinya pabrik-pabrik HP ini tidak kebagian untuk RAM sama memorinya, karena itulah harganya menjadi naik tetapi RAM-nya, memorinya kecil," tambahnya.
Di tempatnya, kenaikan harga ini mulai terlihat pada sejumlah produk elektronik yang sebelumnya relatif stabil.
Salah satu contoh, ponsel merk Samsung yang sebelumnya berada di kisaran Rp1,3 juta hingga Rp1,4 juta, kini naik menjadi sekitar Rp1,8 juta.
"Kalau dulu kan biasanya harga itu makin turun HP itu banyak dipakai, biasa mau muncul HP baru harga itu turun sebaliknya, malah terus naik," jelas Iyan.
"Kemungkinan besar karena sekarang nilai dolarnya naik dan nilai rupiahnya turun, maka dipastikan akan naik lagi, bukan Rp1,8 juta, bisa jadi di atas Rp2 juta," sambungnya.
Iyan menilai kondisi ini tidak biasa, karena umumnya harga perangkat elektronik akan turun seiring waktu dan hadirnya produk baru. Namun saat ini justru terjadi tren sebaliknya, yaitu kenaikan harga secara bertahap.
“Biasanya kalau HP lama itu turun harga. Sekarang malah naik terus,” ujarnya.
Iya menambahkan ketergantungan Indonesia terhadap barang impor membuat fluktuasi nilai tukar sangat berpengaruh terhadap harga di dalam negeri, termasuk komoditas penting seperti gandum, gula, hingga bahan bakar minyak (BBM).
"Kalau misalkan kemarin ramai-ramai mengatakan di desa enggak pakai dolar. Betul transaksi di warung Madura itu enggak pakai dolar, tapi barang-barang impor itu menggunakan dolar," ungkapnya.
Meski demikian, ia berharap kondisi nilai tukar dapat kembali stabil agar harga barang elektronik tidak terus mengalami kenaikan dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
"Semoga saja ada keajaiban," pungkas Iyan.