Bulan Mulud di Tengah Duka Dunia: Gerhana, Tragedi, dan Cahaya Rasulullah

Bulan Mulud 2025 hadir di tengah duka dunia: perang, bencana, dan krisis kemanusiaan. Momentum Maulid Nabi jadi pengingat teladan Rasulullah.

Editor: Abdul Rosid
Dok/Pribadi
Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama. 

TRIBUNBANTEN.COM - Setiap memasuki Bulan Mulud Rabi'ul Awwal, hati umat Islam diselimuti kerinduan akan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Bulan ini selalu menjadi momen mengenang rahmat terbesar Allah bagi semesta: kehadiran Rasulullah, pembawa kasih sayang dan petunjuk hidup bagi seluruh manusia. Namun, tahun ini Bulan Mulud datang dengan ironi yang perih: dunia justru dipenuhi luka, tragedi kemanusiaan, bencana lingkungan, dan perang yang seolah tak mengenal batas.

Mari kita sebut satu per satu agar hati kita tidak mati rasa: ribuan nyawa tertimbun longsor di Darfur, Sudan; bumi Afghanistan bergetar dan menelan ratusan jiwa dalam sekejap; Gaza merintih dalam kelaparan terstruktur yang menjadi senjata perang; Pakistan dan India diterjang banjir bandang; masyarakat adat Papua lari ke hutan karena operasi militer; Indonesia sendiri berduka atas korban hilang dan tewas akibat gelombang demonstrasi; serangan Rusia ke Ukraina makin sadis dengan menyasar ibu hamil dan bayi; ketegangan Israel-Iran menebar ancaman nuklir; Mesir bersitegang dengan Israel soal pemindahan paksa warga Palestina, tapi di balik itu tetap ada kontrak gas miliaran dolar yang menyisakan aroma kemunafikan global.

Di negeri ini, jalanan baru saja panas oleh aksi mahasiswa dan massa 18+7, suara lantang menuntut keadilan sosial dan kebijakan negara yang lebih manusiawi. Aksi itu mulia, tapi juga rawan ditunggangi “tangan tak terlihat” yang lihai menjadikan kegelisahan rakyat sebagai bahan bakar kepentingan politik. Ada yang benar-benar marah karena keadilan tak kunjung hadir, ada yang turun karena solidaritas, ada pula yang berbisik di balik layar, mencoba menukar idealisme dengan ambisi kuasa. Kita menyaksikan drama klasik: rakyat turun ke jalan, negara sibuk mengatur strategi, dan para penumpang gelap sibuk memancing di air keruh.

Semua itu terjadi di bawah langit yang pada Minggu malam Senin, 7 September, tiba-tiba meredup karena gerhana. Alam seakan memberi isyarat: langit pun turut berduka. Rasulullah pernah mengajarkan bahwa gerhana bukan tanda kelahiran atau kematian siapa pun, tetapi ayat Allah yang mengingatkan manusia untuk kembali bersujud, berzikir, dan merenungi diri. Tidakkah gerhana ini terasa seperti sindiran halus kepada umat manusia yang tenggelam dalam ambisi kekuasaan dan nafsu dunia, sementara bumi retak oleh dosa kita sendiri?

Hati saya terseret ke bait-bait lagu Qalbi Fil Madinah Maher Zain: “Bershalawat kepadamu, jiwaku terbang karena cinta… Hatiku di Madinah, menemukan sakinah.” Lirik itu bukan sekadar musik, tapi doa. Di tengah dunia yang dipenuhi darah dan kebencian, kita diingatkan bahwa ketenangan hakiki hanya ada pada teladan Nabi. Lagu itu membuat kita ingin meninggalkan semua hiruk-pikuk dunia, berlari ke Madinah, menunduk di depan maqam Nabi, dan menangis. Bukan sekadar menangisi tragedi dunia, tapi menangisi hati kita sendiri yang sering keras dan abai terhadap sesama.

Kita kerap memperingati Maulid Nabi dengan lampu warna-warni, tabuhan rebana, aneka ragam "panjang", dan barzanji. Itu semua indah, tetapi tak ada artinya jika hati kita tetap beku melihat berita tentang bayi yang mati kelaparan di Gaza, anak-anak yang tertimbun tanah di Sudan, atau warga Papua yang bersembunyi di hutan tanpa makanan. Rasulullah diutus bukan untuk memberi kita seremoni semata, tapi untuk menjadi rahmat bagi semesta. Rahmat berarti melindungi semua, termasuk mereka yang berbeda bangsa, agama, atau warna kulit.

Namun dunia hari ini penuh ironi: tragedi kemanusiaan sering diperlakukan seperti komoditas berita dan bahan politik. Gaza menjadi ajang tawar-menawar geopolitik; perang Ukraina dipenuhi drama diplomasi yang lebih mirip bisnis senjata; Mesir lantang mengecam Israel, namun di meja lain menandatangani kontrak gas miliaran dolar. Kita hidup di zaman di mana kepentingan ekonomi lebih berharga daripada air mata anak-anak.

Cak Nun mungkin akan bilang: “Kita ini sudah terlalu pintar untuk jadi manusia.” Kita lebih cepat bereaksi soal penjarahan rumah sebagian pejabat tinggi itu daripada merespons nyawa-nyawa yang melayang setiap hari. Kita lupa bahwa iman sejati tak bisa dilepaskan dari kepedulian sosial. Nabi Muhammad membangun Madinah bukan dengan senjata semata, melainkan dengan perjanjian, perlindungan terhadap minoritas, dan distribusi keadilan.

Gerhana malam ini adalah simbol: ada cahaya yang tertutup kegelapan. Namun, ia juga pesan bahwa kegelapan hanya sementara. Cahaya tetap ada, seperti cahaya Rasulullah yang tak pernah padam meski dunia tenggelam dalam darah dan air mata. Tragedi yang menghantam kita bulan ini adalah alarm: gempa dan banjir mengingatkan kerakusan kita merusak bumi, perang dan kelaparan menegur kerakusan kita merusak sesama. Rasulullah datang untuk memulihkan harmoni itu semua hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam.

Maka perayaan Maulid Nabi bukan hanya tentang nostalgia, tapi perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan. Kita dipanggil untuk menjadikan cinta Rasul sebagai gerakan nyata: menekan pemimpin agar berpihak pada kemanusiaan, membela korban perang tanpa pandang bulu, mengulurkan tangan pada mereka yang tertimpa bencana. Jika tidak, Maulid hanya akan jadi pesta tahunan yang hampa makna.

Saat gerhana meredup, cahaya bulan kembali memancar. Semoga itu pertanda bahwa dunia masih punya harapan. Harapan itu ada pada mereka yang mau menyalakan kembali cahaya kasih Rasulullah: cahaya yang menuntun kita untuk menangis bersama mereka yang terluka, dan bergerak untuk mengobati luka itu. Bukankah Nabi bersabda, “Siapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi”?

Bulan Mulud tahun ini adalah doa panjang di tengah duka dunia. Semoga kita tidak sekadar mengagumi Nabi, tetapi meneladani beliau. Karena cinta Rasul sejatinya adalah keberanian menjadi manusia dan mengembalikan dunia yang terluka ini ke jalan yang terang penuh bahagia. Setuju!?

Penulis adalah Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved