Seperti Ini Sistem Mitigasi Bekerja Jika Terjadi Gempabumi Megathrust

Ia menjelaskan, sistem peringatan dini mampu mendeteksi magnitudo capaian lebih dari 9 dan memberikan peringatan dini potensi datangnya gelombang

Tayang:
Penulis: Rizki Asdiarman | Editor: Abdul Qodir

Laporan wartawan TribunBanten.com, Rizki Asdiarman

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Penelitian pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang potensi gempa megathrust Magnitudo 9,1 yang dapat menyebabkan tsunami 20 meter di Selatan Pulau Jawa, tidak seharusnya disikapi dengan kecemasan maupun kepanikan.

Justru penelitian itu dilakukan untuk memperkuat sistem mitigasi bencana, khususnay di daerah rawan.

"Melainkan untuk mendukung penguatan sistem mitigasi bencana di daerah rawan," jelas , staff Prakirawan Cuaca BMKG Kelas I Serang, Rofikoh, saat ditemui di kantor BMKG Kelas I Serang, Rabu (30/09/2020).

Beberapa wilayah Banten beberapa kali diguncang gempa.

Lalu seperti apa sistem mitigasi Indonesia?

Menurut Rofikoh, BMKG telah menyiapkan sistem peringatan dini yang dibangun dan disiapkan untuk memonitor dan mengantisipasi kejadian gempabumi, termasuk gempabumi Megathrust.

"Sejak tahun 2008 Pemerintah Indonesia telah mengantisipasi potensi kejadian tsunami akibat gempabumi megathrust seperti yang pernah terjadi di Aceh tahun 2004 silam," ucapnya.

Ia menjelaskan, sistem peringatan dini mampu mendeteksi magnitudo capaian lebih dari 9 dan memberikan peringatan dini potensi datangnya gelombang tsunami.

"Dalam waktu 3 sampai dengan 5 menit setelah kejadian gempabumi. Sistem Monitoring tersebut yang dioperasikan dengan Internet (IoT) dan diperkuat oleh super computer dan kecerdasan buatan (AI).

Lanjutnya, secara otomatis dapat menyebarluaskan informasi peringatan dini tsunami ke masyarakat di daerah rawan gempabumi dan tsunami, melalui BNPB, BPBD, Media, dan sosial media.

Dirinya menyebutkan, dengan penyebarluasan peringatan dini tsunami tersebut maka masih tersisa waktu kurang lebih 15 sampai 17 menit untuk proses evakuasi.

"Apabila waktu datangnya tsunami diperkirakan dalam waktu 20 menit," katanya.

Ia menilai, meski dilengkapi dengan alat pendeteksi tsunami, sangat diperlukan kesungguhan pemerintah daerah dan masyarakat bersama-sama pemerintah pusat untuk melakukan berbagai langkah kesiapan pencegahan bencana.

"Langkah tersebut harus didasarkan pada edukasi masyarakat dalam melakukan perlindungan dan penyelamatan diri terhadap bencana gempabumi dan tsunami," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved