Selama Pandemi Covid-19, Omzet Kerajinan Tangan Khas Banten Turun Hingga 70 Persen

Adam (48), pemilik Sanggar Badak, mengeluhkan penurunan keuntungan dari hasil berjualan karya seni selama masa pandemi coronavirus disease 2019.

Tayang:
Penulis: Ahmad Tajudin | Editor: Glery Lazuardi
TRIBUNBANTEN/AHMADTAJUDIN
Ilustrasi Kerajinan Tangan 

Laporan Wartawan TribunBanten.com Ahmad Tajudin

TRIBUNBANTEN.COM, KOTA SERANG - Adam (48), pemilik Sanggar Badak, mengeluhkan penurunan keuntungan dari hasil berjualan karya seni selama masa pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Sebelum pandemi Covid-19, kata dia, pemasukan dari hasil jualan karya seni cukup untuk menghidupi kehidupan sehari-hari.

Namun ketika pandemi, pemerintah melarang aktivitas berkerumun, sehingga pelanggan, dari instansi pemerintah jarang membeli souvenir, pelakat, ataupun cendramata.

"Selama pandemi ini cukup anjlok, pemasukan menurun hingga 70%," ujar Adam (48), saat ditemui di Jalan Veteran, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten. Selasa, (16/3/2021).

Baca juga: Kreatif, Warga Tangsel Ubah Sampah Jadi Karya Seni, Berikut Sederet Karyanya

Baca juga: Mengenal Sanggar Badak, Wadah Seniman asal Banten Berkreasi

Setiap ada kunjungan kerja atau tamu dari wilayah Banten atau luar Banten, pihaknya menerima pesanan karya seni. Namun saat ini terbilang sepi.

"Biasanya setiap bulan ada yang pesan banyak. Sekarang paling enam bulan sekali yang ke sini. Itupun belinya nggak banyak," ujarnya.

Sanggar Badak menjual berbagai macam karya seni, seperti Cendramata, Pelakat dan miniatur di jual mulai Rp 350.000 hingga jutaan rupiah. (tergantung ukuran, bahan baku, kuningan, dan lain-lain)

- Lukisan klasik dijjual mulai Rp 1 juta hingga puluhan juta.

- Prasasti Marmer di jual mulai Rp. 400.000 - jutaan rupiah

"Kalau itu harga satuan, biasanya pelanggan memesan jumlah banyak. Jadi, harganya jauh lebih murah jika beli banyak," ujarnya.

Selain menjual berbagai kesenian, Sanggar Badak membuka pelatihan melukis untuk para pelajar.

Namun dikarenakan saat ini masih pandemi, menurut dia, jadi, pelatihan ditiadakan.

Dia berharap agar masa pandemi ini cepat berlalu, agar usaha yang dijalani lancar.

Serta bisa mengajarkan kesenian ke para pelajar yang memiliki minat dalam kesenian.

Adam (48), anak dari Edi Jubaedi, pendiri Sanggar Badak
Adam (48), anak dari Edi Jubaedi, pendiri Sanggar Badak (TRIBUNBANTEN/AHMADTAJUDIN)
Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved