Breaking News:

Kasus Unlawful Killing Laskar FPI, Polri: Masyarakat Berhak Beri Masukan, Tapi

Pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyoroti banyaknya warga yang mengomentari kasus kematian enam laskar FPI.

Wartakotalive.com/Joko Supriyanto
Rekontruksi kasus penembakan 6 Laskar FPI, polisi diadang hingga memberikan tembakan peringatan di Karawang Barat, Minggu (13/12/2020). 

TRIBUNBANTEN.COM - Pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyoroti banyaknya warga yang mengomentari kasus kematian enam laskar FPI.

Enam laskar FPI meninggal dunia diduga karena unlawful killing di tol Jakarta-Cikampek KM 50, Karawang, Jawa Barat, pada beberapa waktu lalu.

Baca juga: Kronologi Temuan Benda Mencurigakan Bertuliskan FPI Munarman di Depok, Diduga Magazine & Peluru

Baca juga: Polisi Diduga Penembak Laskar FPI Meninggal Aziz Yanuar: Semoga yang Masih Hidup Dapat Hidayah

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan pihaknya
terbuka menerima masukan dari warga terkait kasus tersebut.

"Artinya siapapun yang ingin melibatkan diri membantu Polri dalam pengungkapan ini kami terbuka, tetap aturan dan dasarnya UU. Jadi bukan yang komen, koar ataupun memberikan komen yang tidak bertanggung jawab tapi memberikan masukan," kata Ahmad di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Secara hukum, kata Ahmad, keterangan dapat diterima sebagai alat bukti jika masyarakat itu mendaftarkan diri sebagai saksi.

Aturan itu termaktub dalam pasal 184 KUHAP. Dalam beleid pasal itu, satu di antara alat bukti yang sah adalah keterangan saksi.

"Jadi banyak yang memberikan komen dan keterangan, memberikan petunjuk, surat, kita acuannya adalah hukum. Di pasal 184 KUHAP, alat bukti yang sah itu ada 5, keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa," ungkap.dia.

Baca juga: Terduga Penembak Laskar FPI Tewas Kecelakaan Motor di Tangsel, Berikut Kronologinya

Baca juga: Kabareskrim Kabarkan Polisi Terduga Penembak Laskar FPI Tewas Kecelakaan

Atas dasar itu, Ahmad meminta masyarakat yang berkomentar terkait kasus kematian laskar FPI untuk mendaftarkan diri sebagai saksi.

"Saya memberi komentar, saya ingin dijadikan sebagai saksi, itu bisa. Saya ahli misalnya, saya ingin jadi saksi, saksi apa? Saksi ahli, tentu diatur dalam UU. Jadi kita tidak liar. Sekali lagi polri menghargai siapapun yang ingin melibatkan diri dalam membantu pengungkapan kasus KM 50 ini," tukas dia.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Masyarakat yang Suka Berkomentar Kasus Kematian Laskar FPI Ditantang Daftar Jadi Saksi

Editor: Glery Lazuardi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved